Sabtu, 31 Oktober 2015

Manajemen Resiko - Asuransi Kesehatan

MANAJEMEN RESIKO

A.           Pengertian Manajemen Resiko.
Manajemen risiko adalah proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau aktivitas perusahaan. Sedangkan menurut beberapa ahli pengertian manajemen resiko adalah sebagai berikut :
Menurut Djojosoedarso (2003) manajemen risiko adalah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan resiko, terutama resiko yang dihadapi oleh organisasi/perusahaan, keluarga dan masyarakat. Jadi mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun, memimpin/mengkoordinas, dan mengawasi (termasuk mengevaluasi) program penanggulangan resiko. Menurut Djohanputro (2008) Manajemen risiko merupakan proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternatif penanganan resiko, dan memonitor dan mengendalikan penanganan resiko.
Menurut Tampubolon (2004) Manajemen risiko juga dapat diartikan sebagai kegiatan atau proses yang terarah dan bersifat proaktif, yang ditujukan untuk mengakomodasi kemungkinan gagal pada salah satu, atau sebagian dari sebuah transaksi atau instrumen. Menurut Fahmi (2010) Manajemen resiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.
B.            Bentuk – Bentuk Manajemen Resiko.
1.             Risiko murni.
Risiko murni adalah suatu peristiwa yang apabila terjadi selalu menimbulkan kerugian, atau paling tidak break even (tidak untung tidak rugi). Misalnya : Kebakaran, gempa bumi, kebanjiran, huru-hara, kecelakaan dll.
2.             Risiko spekulatif.
Risiko spekulatif adalah suatu peristiwa yang apabila terjadi dapat menimbulkan suatu kerugian, break even (tidak untung tidak rugi), bahkan mungkin bisa mendatangkan keuntungan. Risiko-risiko semacam pada umumnya terdapat dalam dunia bisnis dan perjudian . (gambling); di mana terdapat faktor yang memungkinkan seseorang mendapatkan keuntungan. Contoh : Pemasaran produk baru, meningkatkan harga jual, ikut dalam perjudian dan lain-lain.
3.             Risiko particular.
Risiko partikular adalah suatu risiko yang penyebabnya dilakukan oleh individu-individu dan dampaknya terbatas, di mana kita dapat menunjuk individu/seseorang yang menyebabkannya. Misalnya, kebakaran, pencurian, kecelakaan dll. Ketidak pastian dapat menimbulkan dua akibat yang berbeda yaitu positip atau negatip. Sehubungan dengan definisi kita, kita hanya akan memfokuskan pada ketidakpastian yang dapat menimbulkan sesuatu yang negatip yaitu kerugian.
Pertanyaan yang mungkin timbul disini adalah : Dapatkah kita merubah ketidak pastian tersebut menjadi sesuatu yang lebih pasti ? Jawabannya adalah ya..dapat, yaitu dengan mengelolanya atau menangani ketidakpastian itu melalui apa yang kita sebut dengan “Manajemen Risiko”. Semakin besar dan semakin komplex suatu bisnis, semakin besar dan komplex pula ketidakpastian yang akan terjadi.
4.             Risiko fundamental.
Risiko fundamental adalah suatu peristiwa yang baik sebab maupun akibat yang ditimbulkannya bukan berasal dari individu dan dampaknya pada umumnya menimpa orang banyak dan biasanya bersifat katastropal (dalam skala besar). Risiko-risiko ini dapat timbul dari :
a. Peristiwa-peristiwa phisik tertentu yang terjadi diluar kemampuan seseorang / individu. Contoh : gempa bumi, gunung meletus, banjir, angin topan dll.
b. Sifat masyarakat atau gejala masyarakat di mana kita hidup. Contoh : perang, inflasi, perubahan mode dll. Karena risiko fundamental pada umumnya menyangkut/berakibat kepada mayarakat banyak, pemerintah biasanya banyak turut campur dalam penangannya. Misalnya dengan mengadakan program-program penanggulangan seperti penanggulangan bencana alam, program pemberian tunjangan untuk unemployment, atau wajib asuransi atas risiko-risiko tertentu. Misalnya : Taspen, Astek, Jasa Raharja, Askes, dll. Hal semacam juga dilakukan pula diluar negeri misalnya : Motor Insurance, Employers' liability, Nuclear Energy Risks, Solicitors' Professional Indemnity dll.
C.           Konsep Resiko
Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi oleh karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.  Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan.  Istilah resiko memiliki beberapa definisi.  Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian, atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.   Menurut Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi resiko sebagai berikut:
1.        Risk is the chance of loss (resiko adalah kans kerugian)
Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga resiko tidak ada.
2.        Risk is the possibility of loss (resiko adalah kemungkinan kerugian).
Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada di antara nol dan satu.  Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.
3.        Risk is uncertainty (resiko adalah ketidakpastian).
Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective.  Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi resiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan.  Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi resiko berikut.
Menurut definisi di atas, resiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilitas dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan. Dari berbagai definisi di atas, resiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga.  Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian.
Konsep lain yang berkaitan dengan resiko adalah peril dan hazard.  Peril merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan terjadinya suatu kerugian. Sedangkan hazard merupakan keadaan dan kondisi yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril. Hazard terdiri dari beberapa tipe, yaitu:
1.        Physical hazard merupakan suatu kondisi yang bersumber pada karakteristik secara fisik dari objek yang dapat memperbesar terjadinya kerugian. Misalnya jalan licin, tikungan tajam, yang memperbesar kemungkinan kecelakaan dicoba diatasi dengan memasang rambu-rambu lalu-lintas di tempat tersebut.
2.        Moral hazard merupakan suatu kondisi yang bersumber dari orang yang berkaitan dengan sikap mental, pandangan hidup dan kebiasaan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril. Contoh: orang yang telah menasuransikan diri dan mobilnya, maka merasa aman sehingga ia sembrono (lengah) dalam mengendarai mobilnya. Hal ini memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan.
3.        Morale hazard merupakan suatu kondisi dari orang yang merasa sudah memperoleh jaminan dan menimbulkan kecerobohan sehingga memungkinkan timbulnya peril. Walaupun pada dasarnya tidak ada satu orang pun yang mau menderita kerugian, namun ketika telah mendapat jaminan atas diri atau harta miliknya seringkali bertindak ceroboh, tidak berhati-hati dalam mengelola modal.
4.        Legal hazard merupakan suatu kondisi pengabaian atas suatu peraturan atau perundang-undangan yang bertujuan melindungi masyarakat sehingga memperbesar terjadinya peril.
Suatu resiko yang terjadi dapat berasal dari resiko lainnya, dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor.  Resiko rendahnya kinerja suatu instansi berasal dari resiko rendahnya mutu pelayanan kepada publik.  Resiko terakhir disebabkan oleh faktor-faktor sumber daya manusia yang dimiliki organisasi dan operasional seperti keterbatasan fasilitas kantor.  Resiko yang terjadi akan berdampak pada tidak tercapainya misi dan tujuan dari instansi tersebut, dan timbulnya ketidakpercayaan dari publik.
Resiko diyakini tidak dapat dihindari.  Berkenaan dengan sektor publik yang menuntut transparansi dan peningkatan kinerja dengan dana yang terbatas, resiko yang dihadapi instansi Pemerintah akan semakin bertambah dan meningkat.  Oleh karena itu, pemahaman terhadap resiko menjadi keniscayaan untuk dapat menentukan prioritas strategi dan program dalam pencapaian tujuan organisasi.
D.           Syarat- Syarat Resiko yang Dapat Diasuransikan.
Tidak semua risiko dapat diasuransikan, ada persyaratan risiko untuk dapat diasuransikan (insurable risks). Risiko yang terlalu kecil seperti terserang pilek atau kehilangan sebuah pensil, tidak dapat diasuransikan. Beberapa syarat risiko untuk dapat diasuransikan adalah sebagai berikut :
1.             Risiko tersebut haruslah bersifat murni (pure).
Menurut sifat kejadiannya, risiko dapat timbul benar-benar sebagai suatu kebetulan atau accidentaldan dapat timbul karena suatu perbuatan spekulatif. Risiko murni adalah risiko yang spontan, tidak dibuat-buat, tidak disengaja, atau dicari-cari bahkan tidak dapat dihindari dalam jangka pendek. Orang berdagang mempunyai risiko rugi, tetapi risiko rugi tersebut dapat dihindari dengan manajemen yang baik, belanja dengan hati-hati, dan sebagainya. Risiko rugi akibat suatu usaha dagang merupakan risiko spekulatif yang tidak dapat diasuransikan. Oleh karenanya tidak ada asuransi yang menawarkan pertanggungan kalau suatu perusahaan merugi.
Suatu risiko yang timbul akibat suatu tindakan kesengajaan, karena ingin mendapatkan santunan asuransi misalnya, tidak dapat diasuransikan. Contoh, seseorang mempunyai asuransi kematian sebesar satu milyar rupiah, dapat saja dibunuh oleh ahli warisnya guna mendapatkan manfaat/jaminanasuransi sebesar satu milyar rupiah tersebut. Kematian yang disebabkan karenakesengajaan seperti itu tidak dapat ditanggung. Seseorang yang sengaja mencobabunuh diri dengan meminum racun serangga dan gagal sehingga perlu perawatan di rumah sakit tidak berhak atas jaminan perawatan, karena risiko sakitnyabukanlah risiko murni. Contoh risiko murni adalah penyakit kanker. Sakit kanker, yang membutuhkan perawatan yang lama dan mahal, tidak pernah diharapkan oleh si penderita dan karenanya penyakit kanker merupakan risiko murni yang dapat diasuransikan atau dijamin oleh asuransi.

2.             Risiko bersifat definitif.
Pengertian definitif artinya risiko dapat ditentukan kejadiannya secara pasti dan jelas serta dipahami berdasarkan bukti kejadiannya. Risiko sakit dan kematian dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Risiko kecelakaan lalu lintas dibuktikan dengan surat keterangan polisi. Risikokebakaran dibuktikan dengan berita acara dan bukti-bukti lain seperti foto kejadian.
3.             Risiko bersifat statis.
Pengertian statis artinya probabilitas kejadian relatif statis atau konstan tanpa dipengaruhi perubahan politik dan ekonomi suatu negara. Hal tersebut berbeda dengan risiko bisnis yang bersifat dinamis karena sangat dipengaruhi stabilitas politik dan ekonomi. Tentu saja, risiko yang benar benar statis dalam jangka panjang tidak banyak. Risiko seseorang terserang kanker atau gagal jantung akan relatif statis, tidak dipengaruhi keadaan ekonomi dan politik, namun dalam jangka panjang risiko serangan jantung dipengaruhi keadaan ekonomi. Di negara maju, yang relatif kaya dan penduduk cenderung mengkonsumsi makan enak dengan kandungan tinggi lemak, memperlihatkan probabilitas serangan jantung lebih tinggi dibandingkan dengan negara miskin.
4.             Risiko berdampak finansial.
Setiap risiko mempunyai dampak finansial dan non finansial. Risiko yang dapat diasuransikan adalah risiko yang mempunyai dampak financial, karena yang dapat diperhitungkan adalah kerugian finansial. Transfer risiko dilakukan dengan cara membayar premi atau kontribusi kepada perusahaan asuransi, yang akan memberikan penggantian bila terjadi dampak finansial suatu risiko yang telah terjadi.
Suatu kecelakaan diri misalnya mempunyai dampak finansial berupa biaya prawatan dan atau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan. Selain berdampak finansial, suatu kecelakaan juga menimbulkan rasa nyeri dan beban psikologis jika kecelakaan tersebut menimbulkan kematian atau kecacatan, sehingga risiko tersebut menimbulkan dampak yang besar. Dari semua dampak yang terjadi, hanya risiko finansial berupa biaya perawatan dan kehilangan penghasilan akibat kehilangan jiwa atau kecacatan. Dampak rasa nyeri dan perasaankehilangan tidak dapat diasuransikan karena ukurannya sangat subyektif. Manfaat yang dapat ditawarkan asuransi untuk mengganti dampak finansial tersebut adalah penggantian biaya pengobatan dan perawatan (baik dalam bentuk uang atau pelayanan) maupun uang tunai sebagai pengganti kehilangan penghasilan akibat kematian atau kecacatan tersebut.
5.             Risiko measurable atau quantifiable.
Syarat lain adalah besarnya kerugian finansial akibat risiko tersebut dapat diperhitungkan secara akurat. Kalau seorang sakit, harus dapat diterangkan lokasi terjadinya penyakit, waktu kejadian,jenis penyakit, tempat perawatan (nama dan lokasi rumah sakit), dan biaya yang dibutuhkan untuk perawatan yang dijalani. Misalnya, Tn Budi mengalami serangan jantung di Bogor, tanggal 5 September 2006 dan dirawat di RS. Anu di kota Bogor. Biaya yang diperlukan untuk perawatan Tn Budi adalah Rp. 20 Juta. Jadi yang dapat dimasukkan kedalam skema asuransi hanyalah biaya perawatan. Adapun rasa sakit sangat sulit diukur, meskipun kita punya berbagai instrumen, karena rasa sakit bersifat sangat subyektif. Besar penggantian biaya perawatan harus disepakati oleh pemegang polis dan asuradur yang dituangkan dalam kontrak pertanggungan/jaminan/polis. Khusus untuk asuransi jiwa, besar kerugian finansial akibat kematian umumnya ditawarkan dalam jumlah tertentu, mengingat kesulitan mengukur besar kerugian finansial akibat suatu kematian. Jumlah tersebut ditawarkan oleh perusahaan asuransi dan disepakati oleh pemegang polis. Penentuan jumlah tertentu ini disebut quantifiable (dapat ditetapkan jumlahnya) yang dijadikan dasar perhitungan premi yang harus dibayarkan oleh pemegang polis.
6.             Ukuran risiko harus besar (large).
Derajat risiko (severity) memang relatif dan dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu waktu kewaktu lain. Risiko yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi hendaknya memenuhi syarat ukurannya. Risiko biaya rawat inap sebesar Rp 5 juta bisa dinilai besar oleh yang berpenghasilan rendah akan tetapi dinilai kecil oleh yang berpenghasilan diatas Rp 50 juta per bulan. Sebuah sistem asuransi harus secara cermat menilai kelompok risiko yang akan diasuransikan. Kecenderungan asuransi kesehatan di dunia adalah menjamin pelayanan kesehatan secara komprehensif karena ada kaitan antara risiko dengan biaya kecil dan pelayanan yang memerlukan biaya mahal. Sebagai contoh kasus demam berdarah yang berkunjung ke dokter, mengandung risiko menjadi fatal bila pengobatan lanjutannya tidak ditanggung, karena ada kemungkinan orang tersebut tidak meneruskan pelayanannya karena kendala biaya. Jadi menjamin pelayanan kesehatan secara komprehensimerupakan kombinasi penurunan risiko (risk reduction) dan transfer risiko. Suatu skema asuransi yang hanya menanggung risiko yang kecil, misalnya hanya pengobatan di puskesmas—seperti yang dulu dipraktikkan dengan skema dana sehat atau JPKM, tidak memenuhi syarat asuransi. Oleh karena itu, dimanapun di dunia, model asuransi mikro seperti itu tidak memiliki sustainabilitas (kesinambungan) jangka panjang. Umumnya skema semacam itu berusia pendek dan tidak menjadi besar.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Tahun. Manajemen Resiko. diakes 18 Maret 2015 <http://www.pdflibrary.org/pdf/jurnal-asuransi-dan-manajemen-risiko-5-17-2-pb pdf. html>
Anonim. Tahun. Asuransi dan Resiko. diakses 18 Maret 2015. <mufidnilmada.staff.gunadarma.ac.id/.../files/.../Memahami+Asuransi.doc>

Sujarwanto. Tahun. Pengertian dan Prinsip Resiko. diakses 17 Maret 2015. <sujarwanto.staff.gunadarma.ac.id>

Anonim. Tahun. Resiko Yang Dapat Disuransikan. diakses 18 Maret 2015.<http://staff.ui.ac.id/system/files/users/hasbulah/material/babiiintroduksiasuransikesehatanedited.pdf >

Penyakit Gaky (Gangguan Akibat Kurang Yodium)

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
              Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius mengingat dampaknya sangat besar terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia. Selain berupa pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroidi, kekurangan yodium jika terjadi pada wanita hamil mempunyai resiko terjadinya abortus, lahir mati, sampai cacat bawaan pada bayi yang lahir berupa gangguan perkembangan syaraf, mental dan fisik yang disebut kretin. Semua gangguan ini dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahnya produktifitas kerja pada orang dewasa serta timbulnya berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat yang dapat menghambat pembangunan. Dari sejumlah 20 juta penduduk Indonesia yang menderita gondok diperkirakan dapat kehilangan 140 juta angka kecerdasan.
Menurut WHO (2001) bila suatu daerah ditemukan jumlah penderita gondok >5% dari jumlah penduduk (TGR >5%), maka daerah itu disebut daerah endemic. Klasifikasi tingkat endemisitas adalah : daerah non endemic jika TGR < 5%,endemic ringan jika TGR 5,0 – 19,9% daearah endemic sedang jika TGR 20,0 – 29,9% dan daerah endemic berat jika TGR >30%. Jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di daerah endemic GAKY masih cukup tinggi. Berdasarkan survey GAKY tahun 2003 diperkirakan 18,8% penduduk hidup di daerah endimik ringan 4,2 di daerah endemic sedang dan berat 4,5%
Beberapa penelitian telah menemukan kejadian gondok di daerah dataran rendah yang cukup yodium, di mana kandungan yodium dari air, tanah dan produk-produk pertanian di daerah tersebut mestinya cukup memadai, Berkaitan dengan hal tersebut, muncul beberapa teori ; antara lain kemungkinan adanya paparan oleh kontaminan di lingkungan yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi tiroid, seperti logam berat (Plumbum=Pb, Hydrargyrum=Hg dan Cadmium=Cd), polychlorinated biphenyl (PCB), dan pestisida. Hasil penelitian Samsudin (2007), mengenai risiko pajanan Pb di Yogyakarta, diketahui proporsi Wanita Usia Subur(WUS) menderita hipotiroid sebesar 19,2%.
Proporsi WUS dengan kadar Pb tinggi (PbB = 50 μgr/L) adalah 49,5%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kadar Pb dalam darah dengan fungsi tiroid. Kadar Pb tinggi dalam darah merupakan faktor risiko terjadinya hipotiroid pada WUS risiko terpajan Pb di perkotaan. Tingginya kadar Pb dalam darah ini mengakibatkan terbentuknya ikatan dengan unsur yodium di dalam tubuh yang akibatnya akan menyebabkan timbulnya gondok.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut “Bagaimana proses epidemiologi dan survailnce gizi pada penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium?”

C.      Tujuan
1.        Tujuan Umum
Menganalis survailance dan epidemiologi terjadinya penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
2.        Tujuan Khusus
a.    Mengetahui dan memahami proses survailance dan epidemiologi penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
b.    Mengetahui dan memahami diskripsi penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
c.    Mengetahui dan memahami distribusi penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
d.   Mengetahui dan memahami determinant penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Pengertian Penyakit GAKY
Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) merupakan sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan unsur iodium secara terus menerus dalam jangka waktu lama. Iodium adalah unsur kimia (mikronutrien) yang diperlukan untuk sintesis hormon thyroid.
Defisiensi iodium berat menyebabkan gangguan sintesis hormon thyroid dan/atau pembesaran kelenjar thyroid (goiter). Defisiensi iodium yang menyerang populasi masyarakat, disebut iodium deficiency disorder (IDD) atau gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI), menyebabkan goiter endemik, hipothyroidisme, kretinisme, penurunan kesuburan, peningkatan mortalitas bayi dan retardasi mental.

B.  Penyebab Gangguan Akibat Kekurangan Yodium  (GAKY)
1.    Defisiensi Iodium dan  Iodium Excess
Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKY.  Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinyaIodium Excess terjadi apabila iodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus, seperti yang dialami oleh masyarakat di Hokaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang laut dalam jumlah yang besar.  Bila iodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin dan proses coupling.
2.    Lokasi (Geografis dan non geografis)
Faktor lokasi dapat berpengaruh terhadap kejadian GAKY, hal ini disebabkan kandungan yodium yang berbeda di setiap daerah. Penderita GAKY secara umum banyak ditemukan di daerah perbukitan atau dataran tinggi, karena yodium yang berada dilapisan tanah paling atas terkikis oleh banjir atau hujan dan berakibat tumbuh-tumbuhan, hewan dan air di wilayah ini mengandung yodium rendah bahkan tidak ada.
3.     Asupan Energi dan Protein
Gangguan akibat kekurangan yodium secara tidak langsung dapat disebabkan oleh asupan energi yang rendah, karena kebutuhan energi akan diambil dari asupan protein. Protein (albumin, globulin, prealbumin) merupakan alat transport hormon tiroid. Protein transport berfungsi mencegah hormon tiroid keluar dari sirkulasi dan sebagai cadangan hormon.Dengan adanya defisiensi protein dapat berpengaruh terhadap berbagai tahap dalam sintesis hormon tiroid terutama tahap transportasi hormone.
4.    Pangan Goitrogenik
Zat goitrogenik adalah senyawa yang dapat mengganggu struktur dan fungsi hormon tiroid secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung zat goitrogenik menghambat uptake yodida anorganik oleh kelenjar tiroid. Seperti tiosianat dan isotiosianat menghambat proses tersebut karena berkompetisi dengan yodium. Ada dua jenis zat goitrogenik yang berasal dari bahan pangan yaitu:
5.    Genetik
Faktor genetik dalam hal ini merupakan variasi individual terhadap kejadian GAKY dan mempunyai kecenderungan untuk mengalami gangguan kelenjar tiroid. Faktor genetic banyak disebabkan karena keabnormalan fungsi faal kelenjar tiroid. Penyebab genetic lain adalah sejumlah cacat metabolic yang diturunkan, yang melukiskan kepentingan berbagai tahapan dalam biosintesis hormon tiroid. Cacat ini adalah cacat pada pengangkutan yodium, cacat pada iodinasi, cacat perangkaian, defisiensi deiodinasi, dan produksi protein teriodinasi yang abnormal.

C.      Yodium
Jumlah yodium dalam tubuh adalah sekitar 1/100 jumlah Fe orang dewasa sehat, di mana tiga per empat bagian dari jumlah tersebut dalam kelenjar gondok (tiroid), yang berguna untuk sintesis hormone tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3), seperempat bagian lainnya terdapat dalam kelenjar saliva, kelenjar susu,kelenjar lambung serta ginjal. Dalam sirkulasi darah, iodium ditemukan dalam keadaan bebas (free iodine) atau terikat pada protein (protein-bound iodine, PBI)
Sebagai bagian dari hormon tiroksin, iodium menstimulir metabolism dlam tubuh, konversi karoten menjadi vitamin A, sintesis protein, penyerapan gula, dan untuk sintesis kolesterol. Selain itu, tiroksin juga esensial untuk proses reproduksi.Penyakit yang ditimbulkan akibat defisiensi iodium (hipotiroidisme) yang lebih dikenal dengan sebutan GAKY yang dapat berupa gondok (pembesaran kelenjar tiroid), kretinisme, dan miksedema.Pembesaran kelenjar tiroid dapat terjadi pada sejumlah penduduk disuatu daerah yang tanah dan airnya kekurangan iodium, sehingga disebut gondok endemic.
Kretinisme dapat timbul pada anak-anak apabila defisiensi iodium tersebut semakin berat. Hal ini ditandai dengan peryumbuhan badan yang terhambat, mental terbelakang, kulitnya tebal, kering dan pucat serta perutnya buncit.Sumber iodium yang utama adalah bahan pangan dari laut seperti ikan dan rumput laut. Karena umumnya penduduk laut sulit ditemukan padah daerah-daerah gondok endemik.

D. Kebutuhan Yodium
Menurut Hetzel (1989) dalam keadaan normal intake harian untuk orang dewasa berkisar 100 – 150 mg perhari.  Iodium diekskresikan melalui urin dan dinyatakan dalam mg I/g kreatinin.  Pada tingkat ekskresi lebih kecil daro 50 mg/g kreatinin sudah menjadi indikator kekurangan intake.  Konsumsi iodium sangat bervariasi antar berbagai wilayah di dunia, diperkirakan sekitar 500 mg per hari di USA (sekitar 5 kali RDA).  Adapun kecukupan iodium yang dianjurkan untuk orang Indonesia antara lain : 
1.    Bayi (12 bulan pertama) 50 mikrogram/hari
2.    Anak (usia 2-6 tahun) 90 mikrogram/hari
3.    Anak usia sekolah (usia 7-12 tahun) 120 mikrogram/hari
4.    Dewasa (diatas usia 12 tahun) 150 mikrogram/hari
5.    Ibu hamil 175 mikrogram/hari
6.    Ibu menyusui 200 mikrogram/hari
Khusus bagi kelompok ibu hamil tambahan tersebut sebagian dapat dipergunakan untuk keperluan aktivitas kelenjar tiroid dan sebagiannya lagi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin khususnya perkembangan otak.  Bagi ibu hamil yang mengkonsumsi iodium tidak mencukupi  kebutuhan maka bayi atau janin yang dikandung akan mengalami gangguan perkembangan otak (berat otak berkurang), gangguan perkembangan fetus dan pasca lahir, kematian perinatal (abortus) meningkat, kemudian setelah bayi dilahirkan mempunyai berat lahir rendah (BBLR) dan terdapat gangguan pertumbuhan tengkorak serta perkembangan skelet, sedangkan bagi tubuh ibu hamil akan mengalami gangguan aktivitas kelenjar tiroid. 
Pada kondisi ini tubuh akan mengalami penyesuaian yang pada akhirnya akan mengalami pembesaran kelenjar tiroid yang dikenal dengan sebutan gondok
.
E.  Garam beryodium
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan KIO3 yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Garam beryodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain mengandung KIO3 sebesar 30 – 80 ppm. Konsumsi garam yang dianjurkan untuk setiap orang sekitar 6 gram atau satu sendok teh setiap hari. Dalam kondisi tertentu, dimana keringat keluar berlebihan dianjurkan untuk mengkonsumsi garam beryodium dua sendok teh sehari.
Cara mengkonsumi garam biasanya digunakan sebagai garam meja dan penambahan dalam pemasakan, pengaruh pemasakan terhadap penurunan KIO3 membuktikan bahwa sayuran yang dimasak dengan cara dikukus, pembubuhan garam dilakukan saat sayuran matang dan wadah ditutup setelah diberi garam, maka kehilangan iod dengan cara tersebut disebabkan oleh panas mengingat salah satu sifat iod mudah rusak oleh panas .
Garam beryodium yang baik dapat diketahui dengan cara membaca pada label kemasan garam beryodium. Garam beryodium dikemas dalam plastik, tertutup rapat, tidak bocor dan pada kemasan harus tertera tulisan garam beryodium. Cara penyimpanan garam beryodium dalam wadah yang tertutup rapat dan kering, diletakkan di tempat yang sejuk, jauh dari panas api dan sinar matahari langsung (Depkes RI, 1999). Mutu garam beryodium dapat diketahui dengan Yodina Test dan singkong parut. Yodina test, dengan cara :
a. Siapkan garam yang bertuliskan garam beryodium.
b. Siapkan cairan uji yodina.
c. Ambil setengah sendok teh garam yang akan diuji dan letakkan dipiring.
d. Teteskan cairan uji yodina sebanyak 2-3 tetes pada garam tersebut.
e. Tunggu dan perhatikan apakah garamnya berubah warna, kalau garam tetap putih berarti garam tersebut tidak beryodium (0 ppm).
f. Bila berwarna ungu berarti garam mengandung yodium sesuai persyaratan (30 ppm).

F.   Manfaat Garam Beryodium
Berikut adalah manfaat mengkonsumsi garam beryodium secara umum :
1.        Membantu pemeliharaan kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid memiliki peranan yang penting dalam pengaturan metabolisme dasar tubuh.
2.        Mengurangi resiko penyakit gondok, gangguan pendengaran, cebol, dan semangat rendah.
3.        Banyak yang tidak menyadari bahwa garam beryodium bisa membantu tubuh dalam menghilangkan racun dari dalam tubuh. Racun kimia yang bisa dikeluarkan oleh garam beryodium diantaranya adalah: flouride, air raksa, dan racun biologis lainnya .
4.        Garam beryodium bisa membantu sistem metabolisme tubuh untuk lebih maksimal dalam memanfaatkan kalsium .
5.        Garam beryodium membantu proses petumbuhan normal dan kematangan organ reproduksi. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan untuk mengkonsumsi yodium sesuai kebutuhan supaya pertumbuhan janin bisa berkembang dengan baik.
6.        Garam beryodium bisa membantu meningkatkan kekebalan tubuh karena garam beryodium bisa mencegah perkembangbiakan bakteri yang merugikan di dalam perut kita.





BAB III
HASIL DAN ANALISIS

A.  Survailance
Survey Nasional Pemetaan GAKY di seluruh Indonesia pada tahun 1998 ditemukan 33 % Kecamatan di Indonesia masuk kategori endemik, 21 % endemik ringan, 5% endemik sedang dan 7 % endemik berat. Prevalensi GAKY pada anak sekolah dasar nasional pada tahun 1990 sebesar 27,7 % terjadi penurunan menjadi 9,3 % pada tahun 1998. Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai daerah yang dikategorikan sebagai daerah gondok endemik berat, yaitu angka prevalensi Total Goiter Rate (TGR) lebihdari 30 %, disusul oleh propinsi Sumatera Barat dan Propinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan daerah gondok dengan endemik sedang ( TGR 20%-29,9%).
Di Sumatera Barat ditemukan prevalensi pembesaran kelenjar gondok anak sekolah sekitar 14,4% dan ditemukan TGR juga tinggi di daerah pantai. Propinsi denganTGR yang terendah tahun 1996/1998 adalah Riau yaitu 1,1 % sedangkan tahun 2003 Sulawesi Utara yaitu 0,7 %. Propinsi Sumatera Barat termasuk daerah endemik berat, bahkan tergolong sangat berat pada tahun 1980/1982 dengan TGR 74,7 % dan pada tahun 1987masih tergolong tinggi walaupun telah terjadi penurunan yang sangat mengesankan yaitu dengan TGR 33,7 %.
Survey secara nasional kejadian GAKY yang dilakukan pada tahun 2003 terhadap anak SD menunjukkan bahwa 35,8% kabupaten adalah endemik ringan, 13,1% kabupaten endemic sedang dan 8,2% kabupaten endemik berat. Prevalensi kejadian gondok pada anak sekolah dasar tahun 2003 di Indonesia memiliki angka Total Goitre Rate (TGR) sebanyak 44,9%.Hasil survey konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga secara nasional pada tahun 2002 menunjukkan bahwa 18,53% rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium > 30 ppm, masih sedikit rumah tangga yang menggunakan garam beryodium sesuai dengan anjuran kandungan yodium yang baik yang telah ditetapkan oleh dinas kesehatan.
Tahun 2003 sebanyak 73,24% rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium >30 ppm. Hasil survey pada tahun 2009 menunjukkan persentase desa atau kelurahan dengan garam beryodium yang baik di Sumatera Barat terdapat di Kab. Pasaman, Kab. Padang Panjang, Kab. Bukittinggi, Kab. Payakumbuh, dan Kab. Solok dengan persentase 100 %.Sedangkan, untuk penggunaan garam beryodium yang kurang baik terdapat di Kota Padang dengan persentase 27,88%. (Tim GAKY Pusat, 2009)
B.  Epidemiologi
  1. Diskripsi Penyakit GAKY
a.         Pemeriksaan Antropometri
Pemeriksaan antropometri yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengukuran tinggi badan per  berat badan. Hal ini perlu untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan fisik anak sesuai dengan berat badannya karena jika terkena gaky yang sudah parah maka pertumbuhannya akan ikut terganggu. Selain itu, pengukuran tinggi badan per umur juga dapat digunakan untuk pemeriksaan ini.
b.        Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis GAKY dapat dilihat dari gejala - gejala yang muncul pada tubuh seseorang, antara lain :
1)   Seseorang menjadi malas dan lamban.
2)   Kelenjar tiroid membesar yang biasa disebut sebagai gondok di masyarakat. Gondok ini diakibatkan karena konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormone perangsang tiroid / TSH (Thyroid Stimulating Hormone) meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak yodium bila kekurangan berlanjut sehingga selkelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan pengambilan yodium oleh kelenjar tersebut.c.Pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme.
3)   Pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahidalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme.
c.         Pemeriksaan Dietetik
Pemeriksaan dietetik pada penderita GAKY dapat dilihat dari asupan makanan yang dikonsumsi, antara lain sebagai berikut :
1)            Asupan Energi dan Protein
Gangguan akibat kekurangan yodium secara tidak langsung dapat disebabkan oleh asupan energi yang rendah, karena kebutuhan energy akan diambil dari asupan protein. Protein (albumin, globulin, prealbumin) merupakan alat transport hormon tiroid. Protein transport berfungsi mencegah hormon tiroid keluar dari sirkulasi dan sebagai cadangan hormon.
2)            Status Gizi
Pengaruh status gizi terhadap kejadian GAKY masih belum banyak diteliti, namun secara teoritis cadanganlemak merupakan tempat penyimpanan yodium. Jumlah simpanan yodium di dalam tubuh setiap individu akan berbeda sesuai dengan kondisi status gizinya (Oenzil, 1996). Kadar yodium urin anak dengan status gizi baik lebih tinggi dibandingkan dengan anak dengan status gizi kurang setelah diberikan kapsul yodium selama 3 hari berturut-turut (Prihartini, 2004). Status gizi kurang atau buruk akan berisiko pada biosintesis hormon tiroid karena kurangnya TBP (Thyroxin Binding Protein) sehingga sintesis hormone tiroid akan berkurang. (Djokomoejanto,1987).
3)  Pangan Goitrogenik
                                                Ada dua jenis zat goitrogenik yang berasal dari bahan pangan yaitu:
a)        Tiosianat terdapat dalam sayuran kobis, kembang kol, sawi, rebung, ketela rambat dan jewawut, singkong
b)        Isotiosianat terdapat pada kobis.Berdasarkan mekanis kerjanya, zat goitrogenik dipengaruhi oleh proses sintesis hormon dan kelenjar tiroid trhadap bahan – bahan goitrogenik. Bahan tersebut adalah:
                                                              i.     Kelompok tiosianat, dimana mekanisme kerjanya memperngaruhi transportasi yodium. Misalnya : rebung, ubi jalar.
                                                            ii.     Kelompok tiroglikosid, dimana mekanisme kerjanya mempengaruhi oksidasi, organofikasi, dan coupling. Misal: bawang merah, bawang putih, bassica dan yellow turnips.
                                                          iii.     Kelompok akses iodida, dimana mekanisme kerjanya mempengaruhi protealisis, pelepasan, dan halogenasi misalnya gangguan asupan yodium lebih dari 2 gram sehari, akan menghambat sintesis dan pelepasan hormon (Djokomoelyanto, 1994).
d.        Pemeriksaan Laboraturim
Adapun pemeriksaan laboraturium guna mendeteksi penyakit GAKY adalah sebagai berikut (Atmazir,2009) :
1)   Darah, air kemih, tinja, kolestrol serum
2)   T3, T4, TSH.
3)   Pemeriksaan primer TSH
4)   Pemeriksaan T4 ditambah dengan pemeriksaan TSH dari sample darah yang sama, bila hasil T4 rendah
5)   Pemeriksaan TSH dan T4 sekaligus pada satu sample darah.

C.  Distribusi Penyakit GAKY
1.         Lokasi
Gangguan akibat kekurangan yodium dulu disebut penykit gondok endemic, hal ini dikarenakan seringkali penyebab GAKY selalu dikaitkan dengan kurang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung unsur yodium. Dalam kenyataannnya gondok endemik dapat pula disebabkan oleh etiologi lain, seperti bahan goitrogenik, sebab genetik, sebab nutrisional dan justru ‘axcess yodium’ dan kurang yodium.
Hasil penelitian Zulkarnain (2006) mengenai pemetaan prevalensi gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) kota Padang menunjukkan daerah endemic gondok terdapat di daerah pesisir pantai. Banyak factor determinan yang memperngaruhi, yakni rendahnya kandungan yodium garam konsumsi masyarakat. disamping itu, faktor penting lainnya adalah tingginya tingkat pencemara lingkungan di kota Padang termasuk pencemaran laut sehingga kandungan yodium ikan laut di perairan sekitar Padang juga rendah sekali.
2.        Kelompok Umur
Kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap masalah dampak defisiensi iodium adalah wanita usia subur (WUS), ibu hamil, anak balita dan anak usia sekolah. Data tahun 1998 menunjukkan 87 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah endemik GAKY. Akibatnya tak kurang dari 20 juta penduduk menderita gondok. GAKY pada ibu hamil berisiko menimbulkan keguguran, sedangkan pada janin menyebabkan lahir mati. Kalaupun lahir, beresiko mengalami cacat bawaan, kematian dini, kretin, keterbelakangan mental, tuli juling dan lumpuh. Diperkirakan tiap tahun ada 9 ( sembilan ) bayi kretin lahir di Indonesia. Sejauh ini Indonesia telah kehilangan 140 juta point ( Kompas, 2002 ).
3.        Faktor Sosial dan Ekonomi
Kemiskinan didefinisikan sebagai suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kemiskinan bukan semata-mata kekurangan dalam ukuran ekonomi, tapi juga melibatkan kekurangan dalam ukuran kebudayaan dan kejiwaan (Suburratno, 2004)
Kemiskinan bertanggung jawab atas penyakit yang ditemukan pada anak.Hal ini karena kemiskinan mengurangi kapasitas orangtua untuk mendukung perawatan kesehatan yang memadai pada anak, cenderung memiliki higiene yang kurang, miskin diet, miskin pendidikan. Sehingga anak yang miskin memiliki angka kematian dan kesakitan yang lebih tinggi untuk hampir semua penyakit. Frekuensi relatif anak dari orang tua yang berpenghasilan rendah 2 kali lebih besar menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR), 3 kali lebih tinggi resiko imunisasi terlambat dan 4 kali lebih tinggi menyebabkan kematian anak karena penyakit dibanding anak yang orangtuanya berpenghasilan cukup. (Behrman, 1999)
4.    Faktor Sosial Budaya
Faktor sosial budaya yang berkaitan dengan GAKY diantaranya adalah pengetahuan mengenai penyakit gondok dan manfaat dari garam beriodium dalam keluarga, adanya persepsi individu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, wawasan, pemikiran dan pengetahuan, serta adanya pantangan terhadap makanan yang dipengaruhi pola konsumsi pangan yang berhubungan dengan adat istiadat, tradisioanal atau kepercayaan.
Biasanya pantangan tersebut diberlakukan terhadap golongan masyarakat atau individu berdasarkan umur, jenis kelamin, agama yang ada dalam sistem sosial. Ibu yang sedang hamil atau menyusui merupakan individu yang 11 biasanya diberlakukan terhadap pantangan makanan yang sukar diterangkan secara ilmiah yang akan berpengaruh pada bayi. Biasanya jenis makanan yang dilarang adalah susu, telur, ikan asin, ikan segar dan sebagai. Ikan,susu,telur merupakan sumber protein yang sangat baik dan diperlukan bagi ibu hamil maupun menyusui.(Balai penelitian dan pengembangan, Kemenkes RI , 2012)
5.        Faktor Genetik
Studi terhadap kembar monosigot menunjukkan bahwa pembesaran kelenjar gondok pada mereka yang terkena kekurangan iodium mempunyai hubungan dengan faktor-faktor genetik. Studi tersebut melaporkan bahwa seseorang yang didalam sebuah keluarga memiliki satu penderita gondok mempunyai resiko mendapat gondok 2x lebih besar daripada mereka yang berasal dari keluarga yang non gondok. Resiko ini meningkat menjadi 4x pada mereka yang memiliki 2 atau lebih anggota keluarga yang menderita gondok. (Dachroni, 2007)

D.    Determinan Penyakit GAKY
1.         Determinan Langsung
Penyebab langsung dari GAKY adalah defesiensi zat gizi yodium. Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKY.  Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinyaIodium Excess terjadi apabila iodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus, seperti yang dialami oleh masyarakat di Hokaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang laut dalam jumlah yang besar.  Bila iodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin dan proses coupling.
2.         Determinan Tidak Langsung
Penyebab tidak langsung yodium dalam makanan rendah dan penggunakan garam yang tidak beryodium. Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya atau telah mengalami fortifikasi dengan KIO3 (Kalium Iodat) sebanyak 30 – 80 ppm. Dan penambahan ini dikarenakan masih tingginya kejadian Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian, orang yang tidak mengonsumsi garam yodium, daya pikirnya akan mengalami penurunan 3,5 persen saat usia 12 tahun. Sejalan dengan bertambahnya usia, 40 tahun ke atas penurunannya mulai tajam yakni 13 persen/tahun. Untuk antisipasi sejak dini yaitu dihimbau kepada masyarakat untuk menggunakan garam beryodium, apalagi pada saat ini sangatlah mudah mendapatkan garam beryodium.
Untuk memenuhi kebutuhan kita akan yodium dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu selain mengkonsumsi garam yang beryodium setiap hari juga mereka wajib minum kapsul yodium sesuaidosis yang dianjurkan. Dosis pemberian kapsul yodium untuk bayi berumur 0-1 tahun cukup ½ kapsul setiap tahunnya, laki-laki berumur 6-20 tahun cukup dengan 2 kapsul pertahun. Sedangkan untuk ibu hamil dan ibu menyusui konsumsi 1 kapsul dalam satu tahun dan pada wanita usia 6-35 tahun minum 2 kapsul setiap tahunnya.





























BAB IV
PENUTUP
A.      Simpulan
1.      Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) merupakan sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan unsur iodium secara terus menerus dalam jangka waktu lama.
2.      Penyebab GAKI adalah Defisiensi Iodium dan  Iodium Excess, Lokasi, Asupan Energi Protein, Pangan Goitrogenik dan Genetik.
3.      Prevalensi kejadian gondok pada anak sekolah dasar tahun 2003 di Indonesia memiliki angka Total Goitre Rate (TGR) sebanyak 44,9%.
4.      Hasil survey pada tahun 2009 menunjukkan persentase desa atau kelurahan dengan garam beryodium yang baik di Sumatera Barat terdapat di Kab. Pasaman, Kab. Padang Panjang, Kab. Bukittinggi, Kab. Payakumbuh, dan Kab. Solok dengan persentase 100 %.Sedangkan, untuk penggunaan garam beryodium yang kurang baik terdapat di Kota Padang dengan persentase 27,88%.
B.  Saran
  1. Bagi Pemerintah
Saran yang dapat diberikan kepada pemerintah yaitu agar lebih memperhatikan kasus GAKY di daerah endemik agar prevalensi kejadian GAKY dapat ditekan serta meningkatkan kebijakan yang sesuai dalam penanggulangan masalah penyakit GAKY.
  1. Bagi Tenaga Kesehatan Masyarakat
Saran yang dapat diberikan kepada tenaga kesehatan yaitu agar lebih mengupayakan dan mengoptimalkan program-program pengendalian penyakit GAKY guna mengurangi kejadian penyakit GAKY yang lebih besar lagi.
Meningkatkan strategi pemberian penyuluhan pada masyarakat tentang bahan makanan yang kaya kandungan gizi. Serta penyuluhan tentang penggunaan garam beryodium dengan benar.


  1. Bagi Masyarakat
Saran yang diberikan kepada masyarakat yaitu agar lebih menjaga pola makan dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga pola makan yang seimbang agar menciptakan kesehatan tubuh yang optimal.




























DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Tahun. Tinjauan Pustaka GAKY. diakses 3 April 2015. <http://digilib.unimus.ac.id/>

Atmasir, S.2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarat:Gramedia Utama

Behrman RE.1999. Anak dengan resiko tertentu Ilmu Kesehatan anak Nelson Vol I, Edisi 15. Jakarta : EGC.

Depkes RI. 2004. Peningkatan Konsumsi Garam Beryodium. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.

Depkes RI. 2000. Pedoman Distribusi Kapsul Minyak Beryodium. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.

Dwilistiowati, Lita. 2011. Penanggulangan GAKY . diakses 3 April 2015. <http://alwaysnutritionist.com/2009/07/penanggulangan-gaky.html>

Kartasapoetra. 2010. Ilmu Gizi. Jakarta: Rineka cipta.

Kesmas.2013. Pengertian dan Dampak Gaky. diakses 3 April 2015. <http://www.indonesian-publichealth.com/>

Muchtadi, Deddy. 2009. Pengantar Ilmu Gizi. Bandung : Alfabeta

Suburratno. 2004. Riau Dalam Arus Perubahan. Pekanbaru: Alaf Riau


WHO. 2001. Assesment Of Iodine Disorder and Monitoring Their Elimination. WHO : Washington DC