BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
(GAKY) di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius
mengingat dampaknya sangat besar terhadap
kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia. Selain berupa pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroidi,
kekurangan yodium jika terjadi pada
wanita hamil mempunyai resiko terjadinya abortus, lahir mati, sampai cacat bawaan pada bayi yang lahir berupa gangguan
perkembangan syaraf, mental dan fisik
yang disebut kretin. Semua gangguan ini dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahnya
produktifitas kerja pada orang dewasa
serta timbulnya berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat yang dapat menghambat pembangunan. Dari sejumlah 20 juta
penduduk Indonesia yang menderita gondok
diperkirakan dapat kehilangan 140 juta angka kecerdasan.
Menurut WHO (2001) bila suatu
daerah ditemukan jumlah penderita gondok >5% dari jumlah penduduk (TGR
>5%), maka daerah itu disebut daerah endemic. Klasifikasi tingkat
endemisitas adalah : daerah non endemic jika TGR < 5%,endemic ringan jika
TGR 5,0 – 19,9% daearah endemic sedang jika TGR 20,0 – 29,9% dan daerah endemic
berat jika TGR >30%. Jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di daerah
endemic GAKY masih cukup tinggi. Berdasarkan survey GAKY tahun 2003
diperkirakan 18,8% penduduk hidup di daerah endimik ringan 4,2 di daerah
endemic sedang dan berat 4,5%
Beberapa
penelitian telah menemukan kejadian gondok di daerah dataran rendah yang cukup
yodium, di mana kandungan yodium dari air, tanah dan produk-produk pertanian di
daerah tersebut mestinya cukup memadai, Berkaitan dengan hal tersebut, muncul
beberapa teori ; antara lain kemungkinan adanya paparan oleh kontaminan di
lingkungan yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi tiroid, seperti
logam berat (Plumbum=Pb, Hydrargyrum=Hg dan Cadmium=Cd), polychlorinated
biphenyl (PCB), dan pestisida. Hasil penelitian Samsudin (2007), mengenai
risiko pajanan Pb di Yogyakarta, diketahui proporsi Wanita Usia Subur(WUS)
menderita hipotiroid sebesar 19,2%.
Proporsi WUS
dengan kadar Pb tinggi (PbB = 50 μgr/L) adalah 49,5%. Hasil penelitian
menunjukkan ada hubungan antara kadar Pb dalam darah dengan fungsi tiroid.
Kadar Pb tinggi dalam darah merupakan faktor risiko terjadinya hipotiroid pada
WUS risiko terpajan Pb di perkotaan. Tingginya kadar Pb dalam darah ini
mengakibatkan terbentuknya ikatan dengan unsur yodium di dalam tubuh yang
akibatnya akan menyebabkan timbulnya gondok.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian pada latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut “Bagaimana
proses epidemiologi dan survailnce gizi pada penyakit Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium?”
C.
Tujuan
1.
Tujuan
Umum
Menganalis survailance dan epidemiologi terjadinya
penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
2.
Tujuan
Khusus
a. Mengetahui
dan memahami proses survailance dan epidemiologi penyakit Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium (GAKY).
b. Mengetahui
dan memahami diskripsi penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
c. Mengetahui
dan memahami distribusi penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
d. Mengetahui
dan memahami determinant penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian Penyakit GAKY
Gangguan
akibat kekurangan yodium (GAKY) merupakan sekumpulan gejala yang timbul karena
tubuh seseorang kekurangan unsur iodium secara terus menerus dalam jangka waktu
lama. Iodium adalah unsur kimia
(mikronutrien) yang diperlukan untuk sintesis hormon thyroid.
Defisiensi
iodium berat menyebabkan gangguan sintesis hormon thyroid dan/atau pembesaran
kelenjar thyroid (goiter). Defisiensi iodium yang menyerang populasi
masyarakat, disebut iodium deficiency disorder (IDD) atau gangguan
akibat kekurangan iodium (GAKI), menyebabkan goiter endemik, hipothyroidisme,
kretinisme, penurunan kesuburan, peningkatan mortalitas bayi dan retardasi
mental.
B. Penyebab Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY)
1. Defisiensi Iodium dan Iodium Excess
Defisiensi
iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKY. Hal ini disebabkan
karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan
unsur iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Iodium
Excess terjadi apabila iodium
yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus, seperti yang dialami oleh
masyarakat di Hokaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang laut dalam jumlah
yang besar. Bila iodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi
hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin dan proses coupling.
2. Lokasi
(Geografis dan non geografis)
Faktor lokasi dapat berpengaruh terhadap kejadian
GAKY, hal ini disebabkan kandungan yodium yang berbeda di setiap daerah.
Penderita GAKY secara umum banyak ditemukan di daerah perbukitan atau dataran
tinggi, karena yodium yang berada dilapisan tanah paling atas terkikis oleh
banjir atau hujan dan berakibat tumbuh-tumbuhan, hewan dan air di wilayah ini
mengandung yodium rendah bahkan tidak ada.
3. Asupan Energi dan Protein
Gangguan akibat kekurangan yodium secara tidak
langsung dapat disebabkan oleh asupan energi yang rendah, karena kebutuhan
energi akan diambil dari asupan protein. Protein (albumin, globulin,
prealbumin) merupakan alat transport hormon tiroid. Protein transport berfungsi
mencegah hormon tiroid keluar dari sirkulasi dan sebagai cadangan hormon.Dengan
adanya defisiensi protein dapat berpengaruh terhadap berbagai tahap dalam
sintesis hormon tiroid terutama tahap transportasi hormone.
4. Pangan
Goitrogenik
Zat goitrogenik adalah senyawa yang dapat mengganggu
struktur dan fungsi hormon tiroid secara langsung dan tidak langsung. Secara
langsung zat goitrogenik menghambat uptake yodida anorganik oleh kelenjar
tiroid. Seperti tiosianat dan isotiosianat menghambat proses tersebut karena
berkompetisi dengan yodium. Ada dua jenis zat goitrogenik yang berasal dari
bahan pangan yaitu:
5. Genetik
Faktor genetik dalam hal ini merupakan variasi
individual terhadap kejadian GAKY dan mempunyai kecenderungan untuk mengalami
gangguan kelenjar tiroid. Faktor genetic banyak disebabkan karena keabnormalan
fungsi faal kelenjar tiroid. Penyebab genetic lain adalah sejumlah cacat
metabolic yang diturunkan, yang melukiskan kepentingan berbagai tahapan dalam
biosintesis hormon tiroid. Cacat ini adalah cacat pada pengangkutan yodium,
cacat pada iodinasi, cacat perangkaian, defisiensi deiodinasi, dan produksi
protein teriodinasi yang abnormal.
C.
Yodium
Jumlah yodium dalam tubuh adalah sekitar 1/100
jumlah Fe orang dewasa sehat, di mana tiga per empat bagian dari jumlah
tersebut dalam kelenjar gondok (tiroid), yang berguna untuk sintesis hormone
tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3), seperempat bagian lainnya terdapat dalam
kelenjar saliva, kelenjar susu,kelenjar lambung serta ginjal. Dalam sirkulasi
darah, iodium ditemukan dalam keadaan bebas (free iodine) atau terikat pada protein (protein-bound iodine, PBI)
Sebagai bagian dari hormon tiroksin, iodium
menstimulir metabolism dlam tubuh, konversi karoten menjadi vitamin A, sintesis
protein, penyerapan gula, dan untuk sintesis kolesterol. Selain itu, tiroksin
juga esensial untuk proses reproduksi.Penyakit yang ditimbulkan akibat
defisiensi iodium (hipotiroidisme) yang lebih dikenal dengan sebutan GAKY yang
dapat berupa gondok (pembesaran kelenjar tiroid), kretinisme, dan
miksedema.Pembesaran kelenjar tiroid dapat terjadi pada sejumlah penduduk
disuatu daerah yang tanah dan airnya kekurangan iodium, sehingga disebut gondok
endemic.
Kretinisme dapat timbul pada anak-anak apabila
defisiensi iodium tersebut semakin berat. Hal ini ditandai dengan peryumbuhan
badan yang terhambat, mental terbelakang, kulitnya tebal, kering dan pucat
serta perutnya buncit.Sumber iodium yang utama adalah bahan pangan dari laut
seperti ikan dan rumput laut. Karena umumnya penduduk laut sulit ditemukan
padah daerah-daerah gondok endemik.
D. Kebutuhan Yodium
Menurut Hetzel (1989) dalam keadaan
normal intake harian untuk orang dewasa berkisar 100 – 150 mg
perhari. Iodium diekskresikan melalui urin dan dinyatakan dalam mg I/g
kreatinin. Pada tingkat ekskresi lebih kecil daro 50 mg/g kreatinin sudah
menjadi indikator kekurangan intake. Konsumsi iodium sangat
bervariasi antar berbagai wilayah di dunia, diperkirakan sekitar 500 mg per
hari di USA (sekitar 5 kali RDA). Adapun kecukupan iodium yang dianjurkan
untuk orang Indonesia antara lain :
1. Bayi
(12 bulan pertama) 50 mikrogram/hari
2. Anak
(usia 2-6 tahun) 90 mikrogram/hari
3. Anak
usia sekolah (usia 7-12 tahun) 120 mikrogram/hari
4. Dewasa (diatas usia 12 tahun) 150 mikrogram/hari
5. Ibu hamil 175 mikrogram/hari
6. Ibu menyusui 200 mikrogram/hari
Khusus bagi kelompok ibu hamil
tambahan tersebut sebagian dapat dipergunakan untuk keperluan aktivitas
kelenjar tiroid dan sebagiannya lagi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin
khususnya perkembangan otak. Bagi ibu hamil yang mengkonsumsi iodium
tidak mencukupi kebutuhan maka bayi atau janin yang dikandung akan
mengalami gangguan perkembangan otak (berat otak berkurang), gangguan
perkembangan fetus dan pasca lahir, kematian perinatal (abortus) meningkat,
kemudian setelah bayi dilahirkan mempunyai berat lahir rendah (BBLR) dan
terdapat gangguan pertumbuhan tengkorak serta perkembangan skelet, sedangkan
bagi tubuh ibu hamil akan mengalami gangguan aktivitas kelenjar tiroid.
Pada kondisi ini tubuh akan
mengalami penyesuaian yang pada akhirnya akan mengalami pembesaran kelenjar
tiroid yang dikenal dengan sebutan gondok
.
E. Garam beryodium
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya
dengan KIO3 yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Garam
beryodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar Nasional
Indonesia (SNI) antara lain mengandung KIO3 sebesar 30 – 80 ppm. Konsumsi garam
yang dianjurkan untuk setiap orang sekitar 6 gram atau satu sendok teh setiap
hari. Dalam kondisi tertentu, dimana keringat keluar berlebihan dianjurkan
untuk mengkonsumsi garam beryodium dua sendok teh sehari.
Cara mengkonsumi garam biasanya digunakan sebagai
garam meja dan penambahan dalam pemasakan, pengaruh pemasakan terhadap
penurunan KIO3 membuktikan bahwa sayuran yang dimasak dengan cara dikukus,
pembubuhan garam dilakukan saat sayuran matang dan wadah ditutup setelah diberi
garam, maka kehilangan iod dengan cara tersebut disebabkan oleh panas mengingat
salah satu sifat iod mudah rusak oleh panas .
Garam beryodium yang baik dapat diketahui dengan
cara membaca pada label kemasan garam beryodium. Garam beryodium dikemas dalam
plastik, tertutup rapat, tidak bocor dan pada kemasan harus tertera tulisan
garam beryodium. Cara penyimpanan garam beryodium dalam wadah yang tertutup
rapat dan kering, diletakkan di tempat yang sejuk, jauh dari panas api dan
sinar matahari langsung (Depkes RI, 1999). Mutu garam beryodium dapat diketahui
dengan Yodina Test dan singkong parut. Yodina test, dengan cara :
a. Siapkan garam yang bertuliskan garam beryodium.
b. Siapkan cairan uji yodina.
c. Ambil setengah sendok teh garam yang akan diuji
dan letakkan dipiring.
d. Teteskan cairan uji yodina sebanyak 2-3 tetes
pada garam tersebut.
e. Tunggu dan perhatikan apakah garamnya berubah
warna, kalau garam tetap putih berarti garam tersebut tidak beryodium (0 ppm).
f. Bila berwarna ungu berarti
garam mengandung yodium sesuai persyaratan (30 ppm).
F. Manfaat Garam Beryodium
Berikut
adalah manfaat mengkonsumsi garam beryodium secara umum :
1.
Membantu pemeliharaan
kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid memiliki peranan yang penting dalam pengaturan
metabolisme dasar tubuh.
2.
Mengurangi resiko penyakit
gondok, gangguan pendengaran, cebol, dan semangat rendah.
3.
Banyak yang tidak
menyadari bahwa garam beryodium bisa membantu tubuh dalam menghilangkan racun
dari dalam tubuh. Racun kimia yang bisa dikeluarkan oleh garam beryodium
diantaranya adalah: flouride, air raksa, dan racun biologis lainnya .
4.
Garam beryodium bisa
membantu sistem metabolisme tubuh untuk lebih maksimal dalam memanfaatkan
kalsium .
5.
Garam beryodium
membantu proses petumbuhan normal dan kematangan organ reproduksi. Oleh karena
itu, ibu hamil disarankan untuk mengkonsumsi yodium sesuai kebutuhan supaya
pertumbuhan janin bisa berkembang dengan baik.
6.
Garam beryodium bisa
membantu meningkatkan kekebalan tubuh karena garam beryodium bisa mencegah
perkembangbiakan bakteri yang merugikan di dalam perut kita.
BAB III
HASIL DAN ANALISIS
A. Survailance
Survey
Nasional Pemetaan GAKY di seluruh Indonesia pada tahun 1998 ditemukan
33 % Kecamatan di Indonesia masuk kategori endemik, 21 % endemik ringan, 5%
endemik sedang dan 7 % endemik berat. Prevalensi GAKY pada anak sekolah dasar nasional
pada tahun 1990 sebesar 27,7 % terjadi penurunan menjadi 9,3 % pada tahun 1998.
Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai daerah yang
dikategorikan sebagai daerah gondok endemik berat, yaitu angka prevalensi Total
Goiter Rate (TGR) lebihdari 30 %, disusul oleh propinsi Sumatera Barat dan
Propinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan daerah gondok dengan
endemik sedang ( TGR 20%-29,9%).
Di
Sumatera Barat ditemukan prevalensi pembesaran kelenjar gondok anak sekolah
sekitar 14,4%
dan ditemukan TGR juga tinggi di daerah pantai.
Propinsi denganTGR yang terendah tahun 1996/1998 adalah Riau yaitu 1,1 %
sedangkan tahun 2003 Sulawesi Utara yaitu 0,7 %. Propinsi Sumatera Barat
termasuk daerah endemik berat, bahkan tergolong sangat berat pada tahun
1980/1982 dengan TGR 74,7 % dan pada tahun 1987masih tergolong tinggi walaupun
telah terjadi penurunan yang sangat mengesankan yaitu dengan TGR 33,7 %.
Survey secara nasional kejadian
GAKY yang dilakukan pada tahun 2003 terhadap anak SD menunjukkan bahwa 35,8%
kabupaten adalah endemik ringan, 13,1% kabupaten endemic sedang dan 8,2%
kabupaten endemik berat. Prevalensi kejadian gondok pada anak sekolah dasar
tahun 2003 di Indonesia memiliki angka Total Goitre Rate (TGR) sebanyak
44,9%.Hasil survey konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga secara
nasional pada tahun 2002 menunjukkan bahwa 18,53% rumah tangga mengkonsumsi
garam dengan kandungan yodium > 30 ppm, masih sedikit rumah tangga yang
menggunakan garam beryodium sesuai dengan anjuran kandungan yodium yang baik
yang telah ditetapkan oleh dinas kesehatan.
Tahun 2003 sebanyak 73,24%
rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan
kandungan yodium >30 ppm. Hasil survey pada tahun 2009 menunjukkan
persentase desa atau kelurahan dengan garam beryodium yang baik di Sumatera
Barat terdapat di Kab. Pasaman, Kab. Padang
Panjang, Kab. Bukittinggi, Kab. Payakumbuh,
dan Kab. Solok dengan persentase 100 %.Sedangkan, untuk penggunaan garam
beryodium yang kurang baik terdapat di Kota Padang dengan persentase 27,88%.
(Tim GAKY Pusat, 2009)
B. Epidemiologi
- Diskripsi
Penyakit GAKY
a.
Pemeriksaan
Antropometri
Pemeriksaan antropometri
yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengukuran tinggi badan per berat badan. Hal ini perlu untuk mengetahui
bagaimana pertumbuhan fisik anak sesuai dengan berat badannya karena
jika terkena gaky yang sudah parah maka pertumbuhannya akan ikut terganggu.
Selain itu, pengukuran tinggi badan per umur juga dapat digunakan untuk
pemeriksaan ini.
b.
Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan
klinis GAKY dapat dilihat dari gejala - gejala yang muncul pada
tubuh seseorang, antara lain :
1) Seseorang menjadi malas dan lamban.
2) Kelenjar tiroid membesar yang biasa
disebut sebagai gondok di masyarakat. Gondok ini diakibatkan karena konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormone
perangsang tiroid / TSH (Thyroid Stimulating Hormone) meningkat
agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak yodium bila kekurangan
berlanjut sehingga selkelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan
pengambilan yodium oleh kelenjar tersebut.c.Pada
ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam
keadaan berat bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen
serta hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme.
3) Pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan
yang dikenal sebagai kretinisme.
c.
Pemeriksaan
Dietetik
Pemeriksaan
dietetik pada penderita GAKY dapat dilihat dari asupan makanan yang
dikonsumsi, antara lain sebagai berikut :
1)
Asupan
Energi dan Protein
Gangguan
akibat kekurangan yodium secara tidak langsung dapat disebabkan oleh
asupan energi yang rendah, karena kebutuhan energy akan diambil dari
asupan protein. Protein (albumin, globulin, prealbumin) merupakan alat transport hormon tiroid. Protein transport
berfungsi mencegah hormon tiroid keluar dari sirkulasi dan sebagai
cadangan hormon.
2)
Status
Gizi
Pengaruh
status gizi terhadap kejadian GAKY masih belum banyak diteliti, namun secara
teoritis cadanganlemak merupakan tempat penyimpanan yodium. Jumlah simpanan
yodium di dalam tubuh setiap individu akan berbeda sesuai dengan
kondisi status gizinya (Oenzil, 1996). Kadar yodium urin anak dengan status
gizi baik lebih tinggi dibandingkan dengan anak dengan status gizi kurang
setelah diberikan kapsul yodium selama 3 hari berturut-turut (Prihartini, 2004).
Status gizi kurang atau buruk akan berisiko pada biosintesis hormon
tiroid karena kurangnya TBP (Thyroxin Binding Protein) sehingga
sintesis hormone tiroid akan berkurang. (Djokomoejanto,1987).
3) Pangan
Goitrogenik
Ada
dua jenis zat goitrogenik yang berasal dari bahan pangan yaitu:
a)
Tiosianat terdapat dalam sayuran kobis, kembang kol,
sawi, rebung, ketela rambat dan jewawut, singkong
b)
Isotiosianat terdapat pada kobis.Berdasarkan mekanis
kerjanya, zat goitrogenik dipengaruhi oleh proses sintesis hormon dan kelenjar
tiroid trhadap bahan – bahan goitrogenik. Bahan tersebut adalah:
i. Kelompok
tiosianat, dimana mekanisme kerjanya memperngaruhi transportasi yodium.
Misalnya : rebung, ubi jalar.
ii. Kelompok
tiroglikosid, dimana mekanisme kerjanya mempengaruhi oksidasi, organofikasi,
dan coupling. Misal: bawang merah, bawang putih, bassica dan
yellow turnips.
iii. Kelompok
akses iodida, dimana mekanisme kerjanya mempengaruhi protealisis, pelepasan,
dan halogenasi misalnya gangguan asupan yodium lebih dari 2 gram sehari, akan
menghambat sintesis dan pelepasan hormon (Djokomoelyanto, 1994).
d.
Pemeriksaan
Laboraturim
Adapun pemeriksaan laboraturium guna mendeteksi penyakit GAKY adalah
sebagai berikut (Atmazir,2009) :
1)
Darah,
air kemih, tinja, kolestrol serum
2)
T3,
T4, TSH.
3)
Pemeriksaan
primer TSH
4)
Pemeriksaan
T4 ditambah dengan pemeriksaan TSH dari sample darah yang sama, bila hasil T4
rendah
5)
Pemeriksaan
TSH dan T4 sekaligus pada satu sample darah.
C. Distribusi
Penyakit GAKY
1.
Lokasi
Gangguan
akibat kekurangan yodium dulu disebut penykit gondok endemic, hal ini
dikarenakan seringkali penyebab GAKY selalu dikaitkan dengan kurang
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung unsur yodium. Dalam kenyataannnya
gondok endemik dapat pula disebabkan oleh etiologi lain, seperti bahan
goitrogenik, sebab genetik, sebab nutrisional dan justru ‘axcess yodium’ dan kurang yodium.
Hasil
penelitian Zulkarnain (2006) mengenai pemetaan prevalensi gangguan akibat
kekurangan yodium (GAKY) kota Padang menunjukkan daerah endemic gondok terdapat
di daerah pesisir pantai. Banyak factor determinan yang memperngaruhi, yakni
rendahnya kandungan yodium garam konsumsi masyarakat. disamping itu, faktor
penting lainnya adalah tingginya tingkat pencemara lingkungan di kota Padang
termasuk pencemaran laut sehingga kandungan yodium ikan laut di perairan
sekitar Padang juga rendah sekali.
2.
Kelompok Umur
Kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap
masalah dampak defisiensi iodium adalah wanita usia subur (WUS), ibu hamil,
anak balita dan anak usia sekolah. Data tahun 1998 menunjukkan 87 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah
endemik GAKY. Akibatnya tak kurang dari 20 juta penduduk menderita gondok. GAKY
pada ibu hamil berisiko menimbulkan keguguran, sedangkan pada janin menyebabkan
lahir mati. Kalaupun lahir, beresiko mengalami
cacat bawaan, kematian dini, kretin, keterbelakangan mental, tuli juling
dan lumpuh. Diperkirakan tiap tahun ada 9 ( sembilan ) bayi kretin lahir di
Indonesia. Sejauh ini Indonesia telah kehilangan 140 juta point ( Kompas, 2002
).
3.
Faktor
Sosial dan Ekonomi
Kemiskinan didefinisikan sebagai
suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah orang dibandingkan dengan standar
kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kemiskinan
bukan semata-mata kekurangan dalam ukuran ekonomi, tapi juga melibatkan
kekurangan dalam ukuran kebudayaan dan kejiwaan (Suburratno, 2004)
Kemiskinan bertanggung jawab atas penyakit
yang ditemukan pada anak.Hal ini karena kemiskinan mengurangi kapasitas
orangtua untuk mendukung perawatan kesehatan yang memadai pada anak, cenderung
memiliki higiene yang kurang, miskin diet, miskin pendidikan. Sehingga anak
yang miskin memiliki angka kematian dan kesakitan yang lebih tinggi untuk
hampir semua penyakit. Frekuensi relatif anak dari orang tua yang
berpenghasilan rendah 2 kali lebih besar menyebabkan berat badan lahir rendah
(BBLR), 3 kali lebih tinggi resiko imunisasi terlambat dan 4 kali lebih tinggi
menyebabkan kematian anak karena penyakit dibanding anak yang orangtuanya
berpenghasilan cukup. (Behrman, 1999)
4.
Faktor
Sosial Budaya
Faktor sosial budaya yang berkaitan
dengan GAKY diantaranya adalah pengetahuan mengenai penyakit gondok dan manfaat
dari garam beriodium dalam keluarga, adanya persepsi individu yang dipengaruhi
oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, wawasan, pemikiran dan
pengetahuan, serta adanya pantangan terhadap makanan yang dipengaruhi pola
konsumsi pangan yang berhubungan dengan adat istiadat, tradisioanal atau
kepercayaan.
Biasanya pantangan tersebut
diberlakukan terhadap golongan masyarakat atau individu berdasarkan umur, jenis
kelamin, agama yang ada dalam sistem sosial. Ibu yang sedang hamil atau
menyusui merupakan individu yang 11 biasanya diberlakukan terhadap pantangan
makanan yang sukar diterangkan secara ilmiah yang akan berpengaruh pada bayi.
Biasanya jenis makanan yang dilarang adalah susu, telur, ikan asin, ikan segar
dan sebagai. Ikan,susu,telur merupakan sumber protein yang sangat baik dan
diperlukan bagi ibu hamil maupun menyusui.(Balai penelitian dan pengembangan,
Kemenkes RI , 2012)
5.
Faktor
Genetik
Studi terhadap kembar monosigot
menunjukkan bahwa pembesaran kelenjar gondok pada mereka yang terkena
kekurangan iodium mempunyai hubungan dengan faktor-faktor genetik. Studi
tersebut melaporkan bahwa seseorang yang didalam sebuah keluarga memiliki satu
penderita gondok mempunyai resiko mendapat gondok 2x lebih besar daripada
mereka yang berasal dari keluarga yang non gondok. Resiko ini meningkat menjadi
4x pada mereka yang memiliki 2 atau lebih anggota keluarga yang menderita
gondok. (Dachroni, 2007)
D. Determinan Penyakit GAKY
1.
Determinan
Langsung
Penyebab langsung
dari GAKY adalah defesiensi zat gizi yodium.
Defisiensi iodium merupakan sebab pokok
terjadinya masalah GAKY. Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid
melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam
makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Iodium Excess terjadi apabila iodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus
menerus, seperti yang dialami oleh masyarakat di Hokaido (Jepang) yang
mengkonsumsi ganggang laut dalam jumlah yang besar. Bila iodium
dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi hambatan hormogenesis, khususnya
iodinisasi tirosin dan proses coupling.
2.
Determinan
Tidak Langsung
Penyebab tidak
langsung yodium dalam makanan rendah dan penggunakan garam yang tidak beryodium.
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya atau telah mengalami
fortifikasi dengan KIO3 (Kalium
Iodat) sebanyak 30 – 80 ppm. Dan penambahan ini dikarenakan masih tingginya
kejadian Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di
Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian, orang
yang tidak mengonsumsi garam yodium, daya pikirnya akan mengalami penurunan 3,5
persen saat usia 12 tahun. Sejalan dengan bertambahnya usia, 40 tahun ke atas
penurunannya mulai tajam yakni 13 persen/tahun. Untuk antisipasi sejak dini
yaitu dihimbau kepada masyarakat untuk menggunakan garam beryodium, apalagi
pada saat ini sangatlah mudah mendapatkan garam beryodium.
Untuk memenuhi kebutuhan kita akan
yodium dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu selain mengkonsumsi garam
yang beryodium setiap hari juga mereka wajib minum kapsul yodium sesuaidosis yang
dianjurkan. Dosis pemberian kapsul yodium untuk bayi berumur 0-1 tahun cukup ½
kapsul setiap tahunnya, laki-laki berumur 6-20 tahun cukup dengan 2 kapsul pertahun.
Sedangkan untuk ibu hamil dan ibu menyusui konsumsi 1 kapsul dalam satu tahun
dan pada wanita usia 6-35 tahun minum 2 kapsul setiap tahunnya.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
1.
Gangguan
akibat kekurangan yodium (GAKY) merupakan sekumpulan gejala yang timbul karena
tubuh seseorang kekurangan unsur iodium secara terus menerus dalam jangka waktu
lama.
2.
Penyebab GAKI adalah Defisiensi Iodium dan Iodium Excess,
Lokasi, Asupan Energi Protein, Pangan Goitrogenik dan Genetik.
3.
Prevalensi kejadian gondok pada
anak sekolah dasar tahun 2003 di Indonesia memiliki angka Total Goitre Rate
(TGR) sebanyak 44,9%.
4.
Hasil survey pada tahun 2009
menunjukkan persentase desa atau kelurahan dengan garam beryodium yang baik di
Sumatera Barat terdapat di Kab. Pasaman, Kab. Padang
Panjang, Kab. Bukittinggi, Kab. Payakumbuh,
dan Kab. Solok dengan persentase 100 %.Sedangkan, untuk penggunaan garam
beryodium yang kurang baik terdapat di Kota Padang dengan persentase 27,88%.
B. Saran
- Bagi Pemerintah
Saran yang dapat diberikan kepada pemerintah yaitu
agar lebih memperhatikan kasus GAKY di daerah endemik agar prevalensi kejadian
GAKY dapat ditekan serta meningkatkan kebijakan yang sesuai dalam
penanggulangan masalah penyakit GAKY.
- Bagi Tenaga Kesehatan
Masyarakat
Saran yang dapat diberikan kepada tenaga kesehatan
yaitu agar lebih mengupayakan dan mengoptimalkan program-program pengendalian
penyakit GAKY guna mengurangi kejadian penyakit GAKY yang lebih besar lagi.
Meningkatkan strategi pemberian penyuluhan pada
masyarakat tentang bahan makanan yang kaya kandungan gizi. Serta penyuluhan
tentang penggunaan garam beryodium dengan benar.
- Bagi Masyarakat
Saran yang diberikan kepada masyarakat yaitu agar
lebih menjaga pola makan dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga pola makan
yang seimbang agar menciptakan kesehatan tubuh yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Tahun. Tinjauan Pustaka GAKY. diakses 3 April 2015.
<http://digilib.unimus.ac.id/>
Atmasir,
S.2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarat:Gramedia Utama
Behrman RE.1999. Anak
dengan resiko tertentu Ilmu Kesehatan anak Nelson Vol I, Edisi 15. Jakarta
: EGC.
Depkes RI. 2004. Peningkatan Konsumsi Garam Beryodium.
Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
Depkes RI. 2000. Pedoman Distribusi Kapsul Minyak Beryodium.
Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
Dwilistiowati, Lita. 2011. Penanggulangan
GAKY . diakses 3 April 2015. <http://alwaysnutritionist.com/2009/07/penanggulangan-gaky.html>
Kartasapoetra. 2010. Ilmu Gizi. Jakarta: Rineka cipta.
Kesmas.2013. Pengertian dan Dampak
Gaky. diakses 3 April 2015. <http://www.indonesian-publichealth.com/>
Muchtadi, Deddy. 2009. Pengantar
Ilmu Gizi. Bandung : Alfabeta
Suburratno. 2004. Riau Dalam Arus Perubahan. Pekanbaru:
Alaf Riau
WHO. 2001. Assesment Of Iodine
Disorder and Monitoring Their Elimination. WHO : Washington DC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar