BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah penduduk
Indonesia sudah semakin meningkat. Dua ratus juta penduduk telah tercatat,
sekitar 37,3 penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, separuh dari total rumah
tangga mengkonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari lima juta balita
berstatus gizi kurang dan lebih dari seratus juta penduduk beresiko terhadap
berbagai masalah kurang gizi. Semakin padatnya penduduk akan mempengaruhi
jumlah permintaan terhadap pangan yang harus dikonsumsi. Jika penduduk padat
disertai dengan jumlah penduduk produksi pangan melimpah dan penduduk mampu
menjangkau harga dari pangan tersebut tentu tidak menjadi masalah. Namun, jika
penduduk padat tidak disertai dengan produktifitas pangan yang memadai, maka
inilah yang menjadi masalah besar seperti gizi buruk terutama di negara
berkembang seperti Indonesia.
Rendahnya konsumsi pangan atau
tidak seimbangnya gizi makanan yang dikonsumsi mengakibatkan terganggunya
pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tahan tubuh terhadap
serangan penyakit, serta menurunnya aktivitas dan produktifitas kerja. Pada
bayi dan balita, kekurangan gizi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan
dan perkembangan fisik, mental, dan spiritual. Bahkan, pada bayi, gangguan
tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Kekurangan
gizi pada bayi dan balita akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya
manusia.
Oleh karena itu, perlu diketahui
bahwa tingkat kepadatan penduduk yang tinggi akan mempengaruhi rendahnya
konsumsi pangan dan kadar gizi yang diperoleh. Diharapkan dengan menekan jumlah
penduduk Indonesia, masalah gizi buruk dan kelaparan dapat diminimalkan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian dari kependudukan?
2.
Bagaimana
masalah gizi ditinjau dari kependudukan?
3.
Bagaimana
kependudukan dan kaitannya dengan gizi?
4.
Apasajakah
faktor natalitas dan mortalitas?
5.
Bagaimanakah
teori Malthus?
6.
Apasajakah
upaya menyelesaikan masalah gizi dan kependudukan?
C.
Tujuan
1.
Tujuan
Umum :
Untuk menambah
pengetahuan mahasiswa dan mahasiswi prodi S1-Kesehatan Masyarakat tentang masalah
gizi kependudukan yang ada di Indonesia.
2.
Tujuan Khusus :
1. Mengetahui apa pengertian dari kependudukan.
2. Memahami masalah gizi ditinjau dari
segi kependudukan.
3. Memahami bagaimana kependudukan dan
kaitannya dengan gizi.
4. Mengetahui faktor natalisas dan
mortalitas.
5. Memahami teori Malthus.
6. Mengidentifikasi apasajakah upaya
yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi kependudukan.
BAB II
PEMBAHASAN
- Definisi
Kependudukan
Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika
kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi
penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat
kelahiran,kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk
masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan criteria
seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.
Tujuan
Demografi :
1.
Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam
suatu daerah tertentu.
2.
Menjelaskan pertambahan penduduk masa lampau,
penurunan, persebaran dengan data yang tersedia.
3.
Mengembangkan hubungan sebab akibat antara
perkembangan penduduk dengan bermacam-macam aspek organisasi sosial.
4.
Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk di masa akan
datang.
- Masalah Gizi Ditinjau dari Segi
Kependudukan.
Proses terjadinya akibat faktor lingkungan dan manusia yang didukung oleh
kekurangan asupan zat gizi. Akibat kekurangan zat gizi, maka simpanan zat gizi
pada ubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila keadaaan ini berlangsung
lama, maka simpanan zat gizi akan habis dan akhirnya terjadi kemerosotan
jaringan. Masalah gizi adalah gangguan kesehatan seseorang atau masyarakat yang
disebabkan oleh tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhannya akan zat gizi yang
diperoleh dari makanan. Masalah gizi dibagi menjadi 2 yaitu, masalah gizi makro
dan masalah gizi mikro. Adapun gangguan gizi mikro hanya dikenal dalam bentuk
gizi kurang zat gizi mikro tertentu, seperti kurang zat besi, kurang zat yodium
dan kurang vitamin A. Masalah gizi makro, terutama masalah kurang energi
protein yang telah menjadi perhatian para pakar gizi selama puluhan tahun.
Berdasarkan data Susenas,prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita berhasil
diturunkan dari 35,57% tahun 1992 menjadi 24,66% pada tahun 2000.
Disamping itu, tingkat kematian anak-anak di bawah umur 4 tahun masih
tinggi. Dari setiap 1.000 bayi yang lahir hidup setiap tahun, 125-150
daripadanya meningga sebelum umur 1 tahun. Gejala tingkat kematian yang tinggi
tersebut merupakan suatu tanda bahwa keadaan gizi penduduk masih belum baik.
Tingkat kematian yang tinggi tersebut antara lain disebabkan para ibu hamil
selama masa kandungannya kurang mendapatkan asupan kalori protein yang cukup.
Masalah gizi yang timbul diatas salah satu penyebabnya dikarenakan faktor
demografi. Untuk Negara berkembang seperti Indonesia, masalah melonjaknya
tingkat pertumbuhan penduduk yang menyebabkan kepadatan penduduk masih sulit
untuk diatasi.Tingkat kepadatan penduduk akan mempengaruhi permintaan jumlah
pangan yang dibutuhkan. Permintaan jumlah pangan lebih cepat daripada
produksinya. Akibatnya, akan terjadi kesenjangan untuk kebutuhan dna produksi
pangan domestic yang semakin lebar. Penyebab utama kesenjangan itu adalah
adanya pertumbuhan penduduk yang relative masih tinggi.
- Kependudukan dan Kaitannya
dengan Gizi
Jumlah
penduduk yang melonjak drastis akan semakin berpengaruh di semua sektor
bagi negara yang masih berkembang
seperti Indonesia. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan 10 tahun sekali
diperoleh jumlah penduduk Indonesia sebagai berikut :
a. Tahun 1961 = 97,1 juta jiwa.
b. Tahun 1971 = 119,2 juta jiwa.
c. Tahun 1980 = 147,5 juta jiwa.
d. Tahun 1990 = 179.321 juta jiwa.
e. Tahun 2004 = 238.452 juta jiwa.
Kepadatan
penduduk yang relative terus meningkat akan menimbulkan banyak masalah.
Stabilitas penduduk dimasa lalu dilakukan dengan mengimbangi angka kelahiran
dan kematian. Terpeliharanya gizi dalam jangka panjang tidak hanya akan
membatasi besarnya keluarga, tetapi program gizi juga secara langsung merupakan
mekanisme operasional untuk mendorong keluarga berencana.
Sebagaimana
pemberantasan gizi kurang pada anak dan ibu bisa mendorong keluarga kecil sejahtera, pembatasan jumlah
keluarga juga bisa membantu memperbaiki gizi dan keselamatan bayi. Perbaikan
gizi akan memperkecil keguguran dan memperpanjang masa reproduksi.
Pendidikan
kependudukan merupakan media untuk memperluas kesadaran tersebut. Pertumbuhan
penduduk yang cepat merupakan isu sentral yang dihadapi dunia,terlebih di
negara berkembangan termasuk Indonesia. Kualitas hidup sangat tergantung kepada
ketersediaan sumber daya yang dimiliki oleh individu dan masyarakat,serta
berbagai mengelola dan memanfaatkan sumber daya.
- Faktor Penyebab
Natalitas Dan Mortalitas
1.
Biologis
Keadaan gizi kurang yang lama pada wanita dapat
mengakibatkan ganguan pada siklus haid.Wanita yang menyusui anaknya dapat
memperpanjang waktu untuk tidak memperoleh haid kembali,masa berhentinya haid
setelah melahirkan dapat di gunakan sebagai kontraseksi alamiah. Status gizi
yang rendah akan menurunkan resistensi tubuh terhadap infeksi penyakit,
sehingga banyak menyebabkan kematian terutama pada anak-anak balita
(mempengaruhi angka mortalitas). Melahirkan bayi pada usia muda atau terlalu
tua mengakibatkan kualitas anak yang rendah dan juga merugikan kesehatan ibu.
Jarak kehaliran yang terlalu dekat juga akan menyebabkan hal serupa.
2.
Sosio
Budaya dan Ekonomi
Beberapa kelompok masyarakat memiliki presensi untuk
memperoleh anak laki-laki sebagai penerus nama keluarga atau marga dan
menanggung orang tua di masa lanjut usia. Di Indonesia ada anggapan bahwa
“banyak anak banyak rejeki” (adanya kepercayaan bahwa anak adalah karunia Allah
sehingga tak perlu membatasi besarnya keluarga). Di beberapa Negara banyak
terjadi pernikahan pertama pada usia sangat muda (15-19 tahun).
3.
Pendidikan
Wanita yang berpendidikan rendah atau tidak
berpendidikan biasanya mempunyai anak yang lebih banyak dibandingkan wanita
berpendidikan lebih tinggi.Frekuensi kehamilan dan melahirkan akan menyebabkan
ibu berpeluang besar untuk mengalami
gangguan kesehatan dan menyebabkan angka kematian ibu dan anak tinggi .Di
Indonesia AKI masih sangat tinggi
dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, yaitu mencapai 334/100.000 kelahiran
pada tahun 2000.
4.
Kebijakan
1. Pengendalian
pertumbuhan penduduk,terutama dilakukan untuk lebih menurunkan angka kelahiran
melalui gerakan KB mandiri yang semakin meningkat.
2. Penurunan
tingkat kematian,khususnya kematian ibu saat persalinan,kematian bayi,kematian
anak balita melalui program pelayanan kesehatan terpadu.
3. Pengarahan
morbiditas dan penyebaran penduduk dengan memperhatikan kemampuan daya dukung alam, sesuai tata ruang
yang ada serta mendukung peningkatan kesejahteraan ketahanan penduduk serta
keluarga.
4. Memberikan
kesempatan kepada penduduk usia lanjut untuk berperan dalam pembangunan dan
menikmati hari tuanya sebagai penduduk usia lanjut yang sejahtera.
5.
Pengetahuan
Dan Teknologi
Kemajuan
IPTEK kedokteran dan pelayanan kesehatan mengakibatkan penurunan angka kematian
dan penigkatan usia harapan hidup. Angka kematian bayi di beberapa negara
berkembang menunjukkan kecendurangan menurun. Hal ini disebabkan oleh
meningkatnya jumlah anak yang mendapatkan imunisasi untuk mencegah penyakit-penyakit infeksi yang
mematikan. IPTEK yang berkembang baik telah menghasilkan berbagai teknik
kontrasepsi yang memungkinkan pasangan suami istri untuk memilih jenis KB.
6.
Struktur
Kependudukan
Struktur
penduduk sering digambarkan dalam bentuk piramida penduduk. Hasil pembangunan
nasional,khususnya dalam bidang kependudukan dan keluarga sejahtera telah menghasilkan perubahan ciri
kependudukan dan keluarga sejahtera telah menghasilkan perubahan ciri
kependudukan dengan piramida melebar menuju ke atas. Struktur tersebut berciri
penduduk golongan muda (di atas 15 tahun) yang tinggi dan diatas 60 tahun yang
tinggi dengan massa tua yang semakin panjang. Struktur ini mencerminkan
proporsi usia subur yang tinggi dengan potensi melahirkan yang tinggi.
Dampak pertambahan penduduk akan
berakibat pada ketersedian sumber daya dan kelestaraian lingkungan, ketersediaan
pangan, kesehatan masyarakat (ibu dan anak), kesempatan memperoleh pendidikan, maupun
kesempatan kerja. Pertumbuhan penduduk yang tinggi meningkatkan kompetisi
pemanfaatan lahan yang dapat mengancam keberadaan lahan pertanian subur. Konversi
lahan pertanian menjadi isu sentral bagi pemantapan ketahanan pangan (ketersediaan pangan ), karena lebih 60%
produksi pada nasional dihasilkan di pulau jawa.
Suatu saat,besar kemungkinan manusia di
dunia ini akan mengalami bencana kurang pangan,saat teknologi produksi pangan
berkembang dengan pesat dan sisi lain angka kelahiran berhasi di tekan dengan
KB. Pertumbuhan penduduk merupakan isu sentral yang dihadapi dunia, terlebih
negara berkembang.Konsekuensi yang harus dihadapi dari peristiwa tersebut
yaitu,apakah peningkatan ketersediaan pangan mampu mengimbangi pertambahan
penduduk.Adanya dinamika kependudukan,berkaitan dengan pengelolaan SDA untuk
pembangunan ekonomi termasuk kesehatan,serta perkembangan IPTEK. Salah satu
faktor penyebab natalitas dan mortalitas adalah faktor biologis.
Ibu hamil yang mempunyai status gizi
yang baik memiliki kemampuan yang tinggi untuk melahirkan anak yang sehat
dengan bobot badan lahir yang normal dengan risiko kematian bayi yang
rendah.Jika bayi lahir dengan BBLR, menunjukkan kecendurangan untuk lebih mudah
menderita berbagai macam penyakit infeksi dan hal itu merupakan penyebab
tingginya tingkat kematian pada kelompok ini.Pembatasan jumlah keluarga juga
bias membantu memperbaiki gizi dan keselamatan bayi. Dibandingkan dengan
keluarga kecil,jumlah anak yang kelaparan dari keluarga besar hamper empat kali
lebih besar.
- Teori Malthus
Yang dimaksudkan teori Malthus adalah
bahwa populasi manusia bertambah lebih cepat dari pada produksi makanan,sehingga menyebabkan manusia
bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan dan menjadikan perbuatan
amal sia-sia. Analisis-analisis pemikiran Malthus adalah sebagai berikut: Keseimbangan
penduduk dengan daya dukung dan daya tampung sudah dipersoalkan sejak dahulu
oleh para filsuf Cina, Yunani, dan Arab, seperti
Confucius , Plato, Aristoteles maupun Kalden. Bencana
kelaparan (famine) dan kematian langsung dikaitkan dengan faktor ketidak
seimbangan jumlah penduduk dengan
potensi lingkungan alam,khusus penyediaan bahan makanan.
Malthus menyatakan bahwa penduduk cenderung melampaui
pertumbuhan persediaan makanan. Teori Malthus jelas menekankan tentang
pentingnya keseimbangan pertambahan penduduk dan persediaan bahan makanan.
Teori Malthus tersebut sebetulnya sudah mempersoalkan daya dukung lingkungan
dan daya tampung lingkungan. Tanah sebagai suatu komponen lingkungan alam tidak
mampu menyediakan hasil pertanian untuk mencukupi kebutuhan jumlah pendudk yang
terus bertambah dan semakin banyak. Daya dukung tanah sebagai komponen
lingkungan menurun, karena beban manusia yang semakin banyak. Jumlah penduduk
yang terus bertambah dapat mempercepat eksploitasi sumber daya alam dan
mempersempit lahan hunian dan lahan pakai. Jumlah penduduk harus seimbang
dengan batas ambang lingkungan, agar tidak menjadi beban lingkungan atau
mengganggu daya dukung dan daya tampung lingkungan, dengan menampakkan bencana
alam berupa banjir, kekeringan, gagal panen, kelaparan, wabah, penyakit dan
kematian.
Kelahiran dan
kematian sebagai peristiwa-peristiwa vital mengatur keseimbangan penduduk
dengan potensi alamnya. Semakin padat jumlah penduduk dalam jangka pendek,
jangka sedang, atau jangka panjang akan mengganggu daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup. Di daerah-daerah padat penduduk, gangguan keseimbangan
lingkungan (daya dukung dan daya tampung) disebabkan oleh permintaan yang
semakin meningkat terhadap berbagai potensi lingkungan, walaupun konsumsi per
kapita rendah.
Namun,
ditemukannya kultur jaringan memungkinkan para petani untuk memperoleh bibit
unggul dan menggandakan dalam jumlah tak terbatas dalm waktu relatif singkat.
Bibit, terutama tanaman pangan, boleh dikatakan unggul apabila memenuhi minimal
empat kriteria pokok, yaitu : buahnya enak, produksinya tinggi, pohon segera
berbuah dalam waktu yang relatif singkat, toleransi terhadap cuaca, hama, dan
penyakit. Dengan demikian, usaha pertanian modern dalam pengadaan bibit
difokuskan kepada keempat hal tersebut. Dimana kultur jaringan di kemukakan
dalam teori totipotensi.
Dalam konteks
Indonesia, produksi pangan yang mampu menjamin kebutuhan penduduk merupakan
persoalan serius. Meskipun selama dua tahun terakhir dilaporkan swasembada beras dapat dicapai kembali, namun untuk jangka
panjang masih menjadi pertanyaan besar. Salah satu solusi dalam peningkatan
produksi pangan adalah peningkatan areal dan produksivitas. Meskipun hal
tersebut telah dilakukan dengan berbagai strategi namun data menunjukkan masih
jauh dari cukup. Selama lima tahun terakhir (2004-2008), panen padi dan
produktivitas hanya meningkat sedikit di bandingkan dengan pertumbuhan penduduk
yang melebihi persediaan kebutuhan pangan pada setiap orang.
Kemampuan kita
secara terus menerus menyediakan pangan yang melampaui pertumbuhan penduduk
akan terus diuji sepanjang waktu. Program pengendalian penduduk di ikuti
program pendukung seperti layanan sosial, pendidikan, dan kesehatan menjadi
prasyarat dan prioritas. Pemerintah pusat dan daerah harus saling bersinergi
dan juga membangun partnership dengan kalangan swasta dan korporasi terkait
dengan hal ini. Penciptaan lahan baru perlu didorong terutama untuk daerah yang
layak dan potensial. Program ini tidak bisa sepenuhnya diharapkan karena
kendala sosial, teknis, dan biaya. Solusi lainnya adalah mengoptimalkan
pemanfaatan lahan kering. Lahan tersebut sangat potensial untuk diversifikasi
pangan dan diversifikasi produksi pertanian dengan tanaman kehutanan,
peternakan, dan perkebunan.
Diversifikasi
pangan menjadi salah satu kata kunci. Bahan pangan nonpadi yang bisa diproduksi
dari lahan kering nonsawah sangat potensial untuk dikembangkan dan
dikampanyekan terus menerus kepada publik. Penelitian, pengkajian, dan
penyebarluasan melalui penyuluhan akan teknologi produksi baru, seperti benih
memiliki produktivitas tinggi, tahan terhadap kekurangan air, dan goncangan
cuaca ekstrim mutlak diupayakan. Program pengendalian alih fungsi lahan
pertanian terutamanya sawah sangat mendesak dilakukan.
- Upaya Menyelesaikan Masalah
Gizi Kependudukan
Masalah gizi yang timbul dari faktor demografi atau kependudukan harus
segera diatasi. Hal ini diharapkan dapat meminimalkan penderita gizi buruk yang
selama ini menjadi langganan masyarakat Indonesia yang tidak sanggup
menyediakan pangan untuk dikonsumsi. Upaya yang dapat dilakukan antara lain
untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yaitu pengendalian jumlah dan
pertumbuhan penduduk serta pemerataan persebaran penduduk. Sedangkan untuk
mengatasi masalah gizi antara lain:
1.
Peningkatan Gizi Masyarakat.
Hal ini
dapat dilakukan dengan member makanan tambahan yang bergizi terutama bagi
anak-anak. Program ini dapat dioptimalkan melalui pemberdayaan posyandu dan
kegiatan PKK.
2.
Pelaksanaan Imunisasi.
Berdasarkan
prinsip, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Program imunisasi bertujuan
melindungi tiap anak dari penyakit umum. Hal tersebut dapat dilaksanakan
melalui PIN (Pekan imunisasi Nasional).
3.
Penambahan Fasilitas Kesehatan.
Fasilitas
kesehatan harus mampu menampung dan menjangkau masyarakat di daerah-daerah
tertinggal. Penambahan fasilitas kesehatan ini meliputi rumah sakit, puskesmas,
puskesmas pembantu, polindes, dan posyandu. Penambahan fasilitas ini
dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, seperti
imunisasi, KB, pengobatan, dan lain-lain. Dengan demikian dapat mengurangi
tingginya angka kematian bayi, dan meningkatkan angka harapan hidup masyarakat.
4.
Penyediaan Pelayanan Kesehatan
Gratis.
Pemerintah
menyediakan pelayanan gratis bagi penduduk miskin dalam bentuk kartu sehat yang
digunakan untuk memperoleh layanan kesehatan secara murah, atau bahkan gratis
di rumah sakit pemerintah atau puskesmas.
5.
Pengadaan Obat Generik.
Pemerintah
harus mengembangkan pengadaan obat murah yang dapat dijangkau oleh masyarakat
bawah. Penyediaan obat murah ini dapat berupa obat generik.
6.
Penambahan Jumlah Tenaga Medis.
Agar
pelayanan kesehatan dapat mencakup seluruh lapisan masyarakat dan mencakup
sleuruh wilayah Indonesia, diperlukan penambahan jumlah tenaga medis seperti
dokter, bidan dan perawat. Tenaga medis tersebut juga harus memiliki dedikasi
tinggi untuk ditempatkan di daerah-daerah terpencil serta berdedikasi tinggi
melayani masyarakat miskin.
7.
Melakukan Penyuluhan.
Melakukan
penyuluhan tentang arti pentingnya kebersihan dan pola hidup sehat. Penyuluhan
semacam ini juga bisa melibatkan lembaga-lembaga lain di luar lembaga kesehatan
seperti sekolah, organisasi masyarakat, dan tokoh-tokoh masyarakat. Jika
kesadaran akan arti pentingnya pola hidup sehat sudah tertanam dengan baik,
maka masyarakat akan dengan sendirinya trehindar dari berbagai penyakit.
BAB III
PENUTUP
- Simpulan
1.
Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang
mempelajari dinamika kependudukan manusia.
2.
Masalah
gizi dibagi menjadi 2 yaitu : Masalah Gizi Mikro dan Masalah Gizi Makro.
3.
Faktor
yang mempengaruhi natalitas dan mortalitas adalah biologis, sosio
ekonomi,kebijakan, pengetahuan dan iptek serta struktur kependudukan.
4.
Upaya
menyelesaikan masalah gizi kependudukan ada 7 yaitu : peningkatan gizi
masyarakat, pelaksanaan imunisasi, penambahan fasilitas kesehatan, penyediaan
pelayanan kesehtan gratis, penyediaan obat generik, penambahan tenaga medis,
melakukan penyuluhan.
- Saran
1.
Bagi
Masyarakat.
Diharapkan
masyarakat untuk memperhatikan besar jumlah keluarga serta pemenuhan kebutuhan
pangan yang cukup bagi pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
2.
Bagi
Lembaga/ Kader Kesehatan
Baik
pihak kader maupun organisasi/ lembaga kesehatan untuk menantiasa meningkatkan
pelayanan kesehatan dengan mengadakan sistem kesehatan yang efektif, efisien,
dan optimal serta senantiasa mengadakan pemantauan status gizi keluarga atau masyarakat.
3.
Bagi
Pemerintah
Kepada
pemerintah hendaknya senantiasa melakukan program kerja yang dapat meningkatkan
masalah produktifitas pangan dan melakukan pemantauan pemerataan jumlah
penduduk di suatu daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Lean, Michael .2006 .
Ilmu Pangan, Gizi dan Kesehatan . Yogjakarta : Pustaka Belajar.
Minda.2012.Teori-Teori
Kependudukan. diakses 15 Januari 2014 <http://capil.muaraenimkab.go.id>
Wirjatmadi, Bambang.
2010 . Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar