Rabu, 30 April 2014

Gizi Kependudukan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
              Jumlah penduduk Indonesia sudah semakin meningkat. Dua ratus juta penduduk telah tercatat, sekitar 37,3 penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, separuh dari total rumah tangga mengkonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari lima juta balita berstatus gizi kurang dan lebih dari seratus juta penduduk beresiko terhadap berbagai masalah kurang gizi. Semakin padatnya penduduk akan mempengaruhi jumlah permintaan terhadap pangan yang harus dikonsumsi. Jika penduduk padat disertai dengan jumlah penduduk produksi pangan melimpah dan penduduk mampu menjangkau harga dari pangan tersebut tentu tidak menjadi masalah. Namun, jika penduduk padat tidak disertai dengan produktifitas pangan yang memadai, maka inilah yang menjadi masalah besar seperti gizi buruk terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
              Rendahnya konsumsi pangan atau tidak seimbangnya gizi makanan yang dikonsumsi mengakibatkan terganggunya pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit, serta menurunnya aktivitas dan produktifitas kerja. Pada bayi dan balita, kekurangan gizi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan spiritual. Bahkan, pada bayi, gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Kekurangan gizi pada bayi dan balita akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia.
              Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa tingkat kepadatan penduduk yang tinggi akan mempengaruhi rendahnya konsumsi pangan dan kadar gizi yang diperoleh. Diharapkan dengan menekan jumlah penduduk Indonesia, masalah gizi buruk dan kelaparan dapat diminimalkan.


B.     Rumusan Masalah
1.            Apa pengertian dari kependudukan?
2.            Bagaimana masalah gizi ditinjau dari kependudukan?
3.            Bagaimana kependudukan dan kaitannya dengan gizi?
4.            Apasajakah faktor natalitas dan mortalitas?
5.            Bagaimanakah teori Malthus?
6.            Apasajakah upaya menyelesaikan masalah gizi dan kependudukan?
C.    Tujuan
1.      Tujuan Umum :
Untuk menambah pengetahuan mahasiswa dan mahasiswi prodi S1-Kesehatan Masyarakat tentang masalah gizi kependudukan yang ada di Indonesia.
2.      Tujuan Khusus :
1.      Mengetahui apa  pengertian dari kependudukan.
2.      Memahami masalah gizi ditinjau dari segi kependudukan.
3.      Memahami bagaimana kependudukan dan kaitannya dengan gizi.
4.      Mengetahui faktor natalisas dan mortalitas.
5.      Memahami teori Malthus.
6.      Mengidentifikasi apasajakah upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi kependudukan.








BAB II
PEMBAHASAN
  1. Definisi Kependudukan
Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran,kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan criteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.
            Tujuan Demografi :
1.      Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu.
2.      Menjelaskan pertambahan penduduk masa lampau, penurunan, persebaran dengan data yang tersedia.
3.      Mengembangkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan bermacam-macam aspek organisasi sosial.
4.      Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk di masa akan datang.
  1. Masalah Gizi Ditinjau dari Segi Kependudukan.
Proses terjadinya akibat faktor lingkungan dan manusia yang didukung oleh kekurangan asupan zat gizi. Akibat kekurangan zat gizi, maka simpanan zat gizi pada ubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila keadaaan ini berlangsung lama, maka simpanan zat gizi akan habis dan akhirnya terjadi kemerosotan jaringan. Masalah gizi adalah gangguan kesehatan seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhannya akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi dibagi menjadi 2 yaitu, masalah gizi makro dan masalah gizi mikro. Adapun gangguan gizi mikro hanya dikenal dalam bentuk gizi kurang zat gizi mikro tertentu, seperti kurang zat besi, kurang zat yodium dan kurang vitamin A. Masalah gizi makro, terutama masalah kurang energi protein yang telah menjadi perhatian para pakar gizi selama puluhan tahun. Berdasarkan data Susenas,prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita berhasil diturunkan dari 35,57% tahun 1992 menjadi 24,66% pada tahun 2000.
Disamping itu, tingkat kematian anak-anak di bawah umur 4 tahun masih tinggi. Dari setiap 1.000 bayi yang lahir hidup setiap tahun, 125-150 daripadanya meningga sebelum umur 1 tahun. Gejala tingkat kematian yang tinggi tersebut merupakan suatu tanda bahwa keadaan gizi penduduk masih belum baik. Tingkat kematian yang tinggi tersebut antara lain disebabkan para ibu hamil selama masa kandungannya kurang mendapatkan asupan kalori protein yang cukup.
Masalah gizi yang timbul diatas salah satu penyebabnya dikarenakan faktor demografi. Untuk Negara berkembang seperti Indonesia, masalah melonjaknya tingkat pertumbuhan penduduk yang menyebabkan kepadatan penduduk masih sulit untuk diatasi.Tingkat kepadatan penduduk akan mempengaruhi permintaan jumlah pangan yang dibutuhkan. Permintaan jumlah pangan lebih cepat daripada produksinya. Akibatnya, akan terjadi kesenjangan untuk kebutuhan dna produksi pangan domestic yang semakin lebar. Penyebab utama kesenjangan itu adalah adanya pertumbuhan penduduk yang relative masih tinggi.
  1. Kependudukan dan Kaitannya dengan Gizi
Jumlah penduduk yang melonjak drastis akan semakin berpengaruh di semua sektor bagi  negara yang masih berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan 10 tahun sekali diperoleh jumlah penduduk Indonesia sebagai berikut :
a.       Tahun 1961 =  97,1 juta jiwa.
b.      Tahun 1971 = 119,2 juta jiwa.
c.       Tahun 1980 = 147,5 juta jiwa.
d.      Tahun 1990 = 179.321 juta jiwa.
e.       Tahun 2004 = 238.452 juta jiwa.
Kepadatan penduduk yang relative terus meningkat akan menimbulkan banyak masalah. Stabilitas penduduk dimasa lalu dilakukan dengan mengimbangi angka kelahiran dan kematian. Terpeliharanya gizi dalam jangka panjang tidak hanya akan membatasi besarnya keluarga, tetapi program gizi juga secara langsung merupakan mekanisme operasional untuk mendorong keluarga berencana.
Sebagaimana pemberantasan gizi kurang pada anak dan ibu bisa mendorong  keluarga kecil sejahtera, pembatasan jumlah keluarga juga bisa membantu memperbaiki gizi dan keselamatan bayi. Perbaikan gizi akan memperkecil keguguran dan memperpanjang masa reproduksi.
Pendidikan kependudukan merupakan media untuk memperluas kesadaran tersebut. Pertumbuhan penduduk yang cepat merupakan isu sentral yang dihadapi dunia,terlebih di negara berkembangan termasuk Indonesia. Kualitas hidup sangat tergantung kepada ketersediaan sumber daya yang dimiliki oleh individu dan masyarakat,serta berbagai mengelola dan memanfaatkan sumber daya.
  1. Faktor Penyebab Natalitas Dan Mortalitas
1.      Biologis
Keadaan gizi kurang yang lama pada wanita dapat mengakibatkan ganguan pada siklus haid.Wanita yang menyusui anaknya dapat memperpanjang waktu untuk tidak memperoleh haid kembali,masa berhentinya haid setelah melahirkan dapat di gunakan sebagai kontraseksi alamiah. Status gizi yang rendah akan menurunkan resistensi tubuh terhadap infeksi penyakit, sehingga banyak menyebabkan kematian terutama pada anak-anak balita (mempengaruhi angka mortalitas). Melahirkan bayi pada usia muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas anak yang rendah dan juga merugikan kesehatan ibu. Jarak kehaliran yang terlalu dekat juga akan menyebabkan hal serupa.


2.      Sosio Budaya dan Ekonomi
Beberapa kelompok masyarakat memiliki presensi untuk memperoleh anak laki-laki sebagai penerus nama keluarga atau marga dan menanggung orang tua di masa lanjut usia. Di Indonesia ada anggapan bahwa “banyak anak banyak rejeki” (adanya kepercayaan bahwa anak adalah karunia Allah sehingga tak perlu membatasi besarnya keluarga). Di beberapa Negara banyak terjadi pernikahan pertama pada usia sangat muda (15-19 tahun).
3.      Pendidikan
Wanita yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan biasanya mempunyai anak yang lebih banyak dibandingkan wanita berpendidikan lebih tinggi.Frekuensi kehamilan dan melahirkan akan menyebabkan ibu berpeluang  besar untuk mengalami gangguan kesehatan dan menyebabkan angka kematian ibu dan anak tinggi .Di Indonesia  AKI masih sangat tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, yaitu mencapai 334/100.000 kelahiran pada tahun 2000.
4.      Kebijakan
1.      Pengendalian pertumbuhan penduduk,terutama dilakukan untuk lebih menurunkan angka kelahiran melalui gerakan KB mandiri yang semakin meningkat.
2.      Penurunan tingkat kematian,khususnya kematian ibu saat persalinan,kematian bayi,kematian anak balita melalui program pelayanan kesehatan terpadu.
3.      Pengarahan morbiditas dan penyebaran penduduk dengan memperhatikan  kemampuan daya dukung alam, sesuai tata ruang yang ada serta mendukung peningkatan kesejahteraan ketahanan penduduk serta keluarga.
4.      Memberikan kesempatan kepada penduduk usia lanjut untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hari tuanya sebagai penduduk usia lanjut yang sejahtera.

5.                  Pengetahuan Dan Teknologi
           Kemajuan IPTEK kedokteran dan pelayanan kesehatan mengakibatkan penurunan angka kematian dan penigkatan usia harapan hidup. Angka kematian bayi di beberapa negara berkembang menunjukkan kecendurangan menurun. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah anak yang mendapatkan imunisasi  untuk mencegah penyakit-penyakit infeksi yang mematikan. IPTEK yang berkembang baik telah menghasilkan berbagai teknik kontrasepsi yang memungkinkan pasangan suami istri untuk memilih jenis KB.
6.                  Struktur Kependudukan
Struktur penduduk sering digambarkan dalam bentuk piramida penduduk. Hasil pembangunan nasional,khususnya dalam bidang kependudukan dan keluarga sejahtera  telah menghasilkan perubahan ciri kependudukan dan keluarga sejahtera telah menghasilkan perubahan ciri kependudukan dengan piramida melebar menuju ke atas. Struktur tersebut berciri penduduk golongan muda (di atas 15 tahun) yang tinggi dan diatas 60 tahun yang tinggi dengan massa tua yang semakin panjang. Struktur ini mencerminkan proporsi usia subur yang tinggi dengan potensi melahirkan yang tinggi.
         Dampak pertambahan penduduk akan berakibat pada ketersedian sumber daya dan kelestaraian lingkungan, ketersediaan pangan, kesehatan masyarakat (ibu dan anak), kesempatan memperoleh pendidikan, maupun kesempatan kerja. Pertumbuhan penduduk yang tinggi meningkatkan kompetisi pemanfaatan lahan yang dapat mengancam keberadaan lahan pertanian subur. Konversi lahan pertanian menjadi isu sentral bagi pemantapan ketahanan pangan  (ketersediaan pangan ), karena lebih 60% produksi pada nasional dihasilkan di pulau jawa.
         Suatu saat,besar kemungkinan manusia di dunia ini akan mengalami bencana kurang pangan,saat teknologi produksi pangan berkembang dengan pesat dan sisi lain angka kelahiran berhasi di tekan dengan KB. Pertumbuhan penduduk merupakan isu sentral yang dihadapi dunia, terlebih negara berkembang.Konsekuensi yang harus dihadapi dari peristiwa tersebut yaitu,apakah peningkatan ketersediaan pangan mampu mengimbangi pertambahan penduduk.Adanya dinamika kependudukan,berkaitan dengan pengelolaan SDA untuk pembangunan ekonomi termasuk kesehatan,serta perkembangan IPTEK. Salah satu faktor penyebab natalitas dan mortalitas adalah faktor biologis.
         Ibu hamil yang mempunyai status gizi yang baik memiliki kemampuan yang tinggi untuk melahirkan anak yang sehat dengan bobot badan lahir yang normal dengan risiko kematian bayi yang rendah.Jika bayi lahir dengan BBLR, menunjukkan kecendurangan untuk lebih mudah menderita berbagai macam penyakit infeksi dan hal itu merupakan penyebab tingginya tingkat kematian pada kelompok ini.Pembatasan jumlah keluarga juga bias membantu memperbaiki gizi dan keselamatan bayi. Dibandingkan dengan keluarga kecil,jumlah anak yang kelaparan dari keluarga besar hamper empat kali lebih besar.
  1. Teori Malthus
Yang dimaksudkan teori Malthus adalah bahwa populasi manusia bertambah lebih cepat dari pada produksi makanan,sehingga menyebabkan manusia bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan dan menjadikan perbuatan amal sia-sia. Analisis-analisis pemikiran Malthus adalah sebagai berikut: Keseimbangan penduduk dengan daya dukung dan daya tampung sudah dipersoalkan sejak dahulu oleh para filsuf Cina, Yunani, dan Arab, seperti Confucius , Plato, Aristoteles  maupun Kalden. Bencana kelaparan (famine) dan kematian langsung dikaitkan dengan faktor ketidak seimbangan jumlah  penduduk dengan potensi lingkungan alam,khusus penyediaan bahan makanan.
Malthus menyatakan bahwa penduduk cenderung melampaui pertumbuhan persediaan makanan. Teori Malthus jelas menekankan tentang pentingnya keseimbangan pertambahan penduduk dan persediaan bahan makanan. Teori Malthus tersebut sebetulnya sudah mempersoalkan daya dukung lingkungan dan daya tampung lingkungan. Tanah sebagai suatu komponen lingkungan alam tidak mampu menyediakan hasil pertanian untuk mencukupi kebutuhan jumlah pendudk yang terus bertambah dan semakin banyak. Daya dukung tanah sebagai komponen lingkungan menurun, karena beban manusia yang semakin banyak. Jumlah penduduk yang terus bertambah dapat mempercepat eksploitasi sumber daya alam dan mempersempit lahan hunian dan lahan pakai. Jumlah penduduk harus seimbang dengan batas ambang lingkungan, agar tidak menjadi beban lingkungan atau mengganggu daya dukung dan daya tampung lingkungan, dengan menampakkan bencana alam berupa banjir, kekeringan, gagal panen, kelaparan, wabah, penyakit dan kematian.
Kelahiran dan kematian sebagai peristiwa-peristiwa vital mengatur keseimbangan penduduk dengan potensi alamnya. Semakin padat jumlah penduduk dalam jangka pendek, jangka sedang, atau jangka panjang akan mengganggu daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Di daerah-daerah padat penduduk, gangguan keseimbangan lingkungan (daya dukung dan daya tampung) disebabkan oleh permintaan yang semakin meningkat terhadap berbagai potensi lingkungan, walaupun konsumsi per kapita rendah.
Namun, ditemukannya kultur jaringan memungkinkan para petani untuk memperoleh bibit unggul dan menggandakan dalam jumlah tak terbatas dalm waktu relatif singkat. Bibit, terutama tanaman pangan, boleh dikatakan unggul apabila memenuhi minimal empat kriteria pokok, yaitu : buahnya enak, produksinya tinggi, pohon segera berbuah dalam waktu yang relatif singkat, toleransi terhadap cuaca, hama, dan penyakit. Dengan demikian, usaha pertanian modern dalam pengadaan bibit difokuskan kepada keempat hal tersebut. Dimana kultur jaringan di kemukakan dalam teori totipotensi.
Dalam konteks Indonesia, produksi pangan yang mampu menjamin kebutuhan penduduk merupakan persoalan serius. Meskipun selama dua tahun terakhir dilaporkan swasembada beras dapat dicapai kembali, namun untuk jangka panjang masih menjadi pertanyaan besar. Salah satu solusi dalam peningkatan produksi pangan adalah peningkatan areal dan produksivitas. Meskipun hal tersebut telah dilakukan dengan berbagai strategi namun data menunjukkan masih jauh dari cukup. Selama lima tahun terakhir (2004-2008), panen padi dan produktivitas hanya meningkat sedikit di bandingkan dengan pertumbuhan penduduk yang melebihi persediaan kebutuhan pangan pada setiap orang.
Kemampuan kita secara terus menerus menyediakan pangan yang melampaui pertumbuhan penduduk akan terus diuji sepanjang waktu. Program pengendalian penduduk di ikuti program pendukung seperti layanan sosial, pendidikan, dan kesehatan menjadi prasyarat dan prioritas. Pemerintah pusat dan daerah harus saling bersinergi dan juga membangun partnership dengan kalangan swasta dan korporasi terkait dengan hal ini. Penciptaan lahan baru perlu didorong terutama untuk daerah yang layak dan potensial. Program ini tidak bisa sepenuhnya diharapkan karena kendala sosial, teknis, dan biaya. Solusi lainnya adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering. Lahan tersebut sangat potensial untuk diversifikasi pangan dan diversifikasi produksi pertanian dengan tanaman kehutanan, peternakan, dan perkebunan.
Diversifikasi pangan menjadi salah satu kata kunci. Bahan pangan nonpadi yang bisa diproduksi dari lahan kering nonsawah sangat potensial untuk dikembangkan dan dikampanyekan terus menerus kepada publik. Penelitian, pengkajian, dan penyebarluasan melalui penyuluhan akan teknologi produksi baru, seperti benih memiliki produktivitas tinggi, tahan terhadap kekurangan air, dan goncangan cuaca ekstrim mutlak diupayakan. Program pengendalian alih fungsi lahan pertanian terutamanya sawah sangat mendesak dilakukan.
  1. Upaya Menyelesaikan Masalah Gizi Kependudukan
Masalah gizi yang timbul dari faktor demografi atau kependudukan harus segera diatasi. Hal ini diharapkan dapat meminimalkan penderita gizi buruk yang selama ini menjadi langganan masyarakat Indonesia yang tidak sanggup menyediakan pangan untuk dikonsumsi. Upaya yang dapat dilakukan antara lain untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yaitu pengendalian jumlah dan pertumbuhan penduduk serta pemerataan persebaran penduduk. Sedangkan untuk mengatasi masalah gizi antara lain:
1.      Peningkatan Gizi Masyarakat.
Hal ini dapat dilakukan dengan member makanan tambahan yang bergizi terutama bagi anak-anak. Program ini dapat dioptimalkan melalui pemberdayaan posyandu dan kegiatan PKK.
2.      Pelaksanaan Imunisasi.
Berdasarkan prinsip, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Program imunisasi bertujuan melindungi tiap anak dari penyakit umum. Hal tersebut dapat dilaksanakan melalui PIN (Pekan imunisasi Nasional).
3.      Penambahan Fasilitas Kesehatan.
Fasilitas kesehatan harus mampu menampung dan menjangkau masyarakat di daerah-daerah tertinggal. Penambahan fasilitas kesehatan ini meliputi rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, polindes, dan posyandu. Penambahan fasilitas ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, seperti imunisasi, KB, pengobatan, dan lain-lain. Dengan demikian dapat mengurangi tingginya angka kematian bayi, dan meningkatkan angka harapan hidup masyarakat.
4.      Penyediaan Pelayanan Kesehatan Gratis.
Pemerintah menyediakan pelayanan gratis bagi penduduk miskin dalam bentuk kartu sehat yang digunakan untuk memperoleh layanan kesehatan secara murah, atau bahkan gratis di rumah sakit pemerintah atau puskesmas.
5.      Pengadaan Obat Generik.
Pemerintah harus mengembangkan pengadaan obat murah yang dapat dijangkau oleh masyarakat bawah. Penyediaan obat murah ini dapat berupa obat generik.
6.      Penambahan Jumlah Tenaga Medis.
Agar pelayanan kesehatan dapat mencakup seluruh lapisan masyarakat dan mencakup sleuruh wilayah Indonesia, diperlukan penambahan jumlah tenaga medis seperti dokter, bidan dan perawat. Tenaga medis tersebut juga harus memiliki dedikasi tinggi untuk ditempatkan di daerah-daerah terpencil serta berdedikasi tinggi melayani masyarakat miskin.
7.      Melakukan Penyuluhan.
Melakukan penyuluhan tentang arti pentingnya kebersihan dan pola hidup sehat. Penyuluhan semacam ini juga bisa melibatkan lembaga-lembaga lain di luar lembaga kesehatan seperti sekolah, organisasi masyarakat, dan tokoh-tokoh masyarakat. Jika kesadaran akan arti pentingnya pola hidup sehat sudah tertanam dengan baik, maka masyarakat akan dengan sendirinya trehindar dari berbagai penyakit.




BAB III
PENUTUP
  1. Simpulan
1.   Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia.
2.   Masalah gizi dibagi menjadi 2 yaitu : Masalah Gizi Mikro dan Masalah Gizi Makro.
3.   Faktor yang mempengaruhi natalitas dan mortalitas adalah biologis, sosio ekonomi,kebijakan, pengetahuan dan iptek serta struktur kependudukan.
4.   Upaya menyelesaikan masalah gizi kependudukan ada 7 yaitu : peningkatan gizi masyarakat, pelaksanaan imunisasi, penambahan fasilitas kesehatan, penyediaan pelayanan kesehtan gratis, penyediaan obat generik, penambahan tenaga medis, melakukan penyuluhan.
  1. Saran
1.      Bagi Masyarakat.
Diharapkan masyarakat untuk memperhatikan besar jumlah keluarga serta pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup bagi pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
2.      Bagi Lembaga/ Kader Kesehatan
Baik pihak kader maupun organisasi/ lembaga kesehatan untuk menantiasa meningkatkan pelayanan kesehatan dengan mengadakan sistem kesehatan yang efektif, efisien, dan optimal serta senantiasa mengadakan pemantauan status gizi keluarga atau masyarakat.




3.      Bagi Pemerintah
Kepada pemerintah hendaknya senantiasa melakukan program kerja yang dapat meningkatkan masalah produktifitas pangan dan melakukan pemantauan pemerataan jumlah penduduk di suatu daerah.



























DAFTAR PUSTAKA

Lean, Michael .2006 . Ilmu Pangan, Gizi dan Kesehatan . Yogjakarta : Pustaka Belajar.
Minda.2012.Teori-Teori Kependudukan. diakses 15 Januari 2014 <http://capil.muaraenimkab.go.id>
Wirjatmadi, Bambang. 2010 . Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta :